Warteg di Indonesia Alami Shrinkflation Akibat Kenaikan Harga Bahan Baku
Shrinkflation di Warteg: Porsi Berkurang, Harga Tetap

Media asal Jepang, Nikkei Asia, baru-baru ini menyoroti fenomena yang terjadi di warung tegal (warteg) di Indonesia. Melalui pemberitaan yang tayang pada Kamis (11/6/2026) berjudul “Indonesia's shrinkflation belies government's 'strong' fundamentals claim”, mereka mengungkapkan bahwa porsi hidangan di warteg semakin sedikit akibat kenaikan harga bahan baku.

Fenomena Shrinkflation di Warteg

Nikkei Asia menjelaskan bahwa meskipun harga makanan yang dijual di warteg mungkin hanya naik sedikit, namun porsi yang disajikan justru berkurang secara signifikan. Hal ini merupakan dampak langsung dari lonjakan harga bahan baku yang tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada konsumen. Para pemilik warteg terpaksa mengurangi porsi lauk dan sayuran agar tetap bisa menjual dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Dampak Kenaikan Harga Bahan Baku

Kenaikan harga bahan baku seperti minyak goreng, beras, dan daging ayam telah memukul para pelaku usaha kecil menengah, termasuk warteg. Banyak warteg yang mengeluhkan margin keuntungan yang semakin tipis. Beberapa pemilik warteg bahkan mengaku harus merelakan keuntungan demi mempertahankan pelanggan setia mereka.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Fenomena shrinkflation ini menjadi sorotan karena bertentangan dengan klaim pemerintah tentang fundamental ekonomi yang kuat. Nikkei Asia menilai bahwa kondisi ini mencerminkan tekanan daya beli masyarakat yang sebenarnya.

Respons Pemerintah

Hingga saat ini, pemerintah Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait pemberitaan Nikkei Asia tersebut. Namun, beberapa pengamat ekonomi menilai bahwa shrinkflation di warteg merupakan indikasi bahwa inflasi dan kenaikan harga pangan masih menjadi tantangan serius bagi perekonomian nasional.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga