Internet Gratis BAKTI di Sekolah Terluar: Terbantu Tapi Ada Kendala
Internet Gratis BAKTI di Sekolah Terluar: Terbantu Tapi Ada Kendala

Maratua – Pemanfaatan internet untuk pendidikan di wilayah terluar Indonesia tidak hanya bergantung pada ketersediaan jaringan, tetapi juga pada cara penggunaannya. Hal ini terungkap saat Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital meninjau layanan internet di SDN 001 Payung-Payung, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, pada Kamis (11/6/2026).

Internet Gratis Selama Dua Tahun

Sekolah yang berlokasi di Batu Payung ini telah menikmati layanan internet gratis dari BAKTI selama sekitar dua tahun terakhir. Kehadiran akses internet tersebut sangat membantu aktivitas pembelajaran dan pelaksanaan ujian berbasis internet. Dengan jumlah 94 siswa dan 13 tenaga pendidik, sekolah kini dapat mengakses berbagai layanan digital tanpa harus keluar dari wilayah mereka. Sebelumnya, kebutuhan internet mengharuskan pihak sekolah mencari akses hingga ke kampung lain.

"Kita sangat terbantu dengan bantuan dari BAKTI. Untuk pembelajaran dan ujian online sangat membantu," ujar Kepala SDN 001 Payung-Payung, Bahridin.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kendala Saat Penggunaan Bersama

Meski demikian, sekolah masih menghadapi kendala ketika penggunaan internet meningkat. Menurut Bahridin, kecepatan akses bisa menurun ketika jaringan digunakan secara bersamaan oleh siswa dan masyarakat sekitar, misalnya pada saat pelaksanaan ujian online.

Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, menjelaskan bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata karena keterbatasan kapasitas jaringan. Ditemukan bahwa sekolah belum memanfaatkan secara optimal jaringan khusus yang disediakan untuk kebutuhan pendidikan.

"WiFi-nya itu kami buka dua akses point-nya, satu terbuka tanpa password, satu ada password-nya. Nah yang selalu digunakan guru itu selalu berbarengan dengan masyarakat. Harusnya pakai yang (untuk) SD," sebut Fadhilah.

Salah satu penyebabnya adalah jaringan terbuka tidak perlu repot login dengan password. "Kepala sekolah bilang apakah boleh tidak jangan dibagi ke masyarakat dalam arti mereka menggunakan full untuk kepentingan sekolah. Tapi harusnya mereka pakai yang untuk sekolah," imbuhnya.

Desain Layanan di Wilayah 3T

Fadhilah menerangkan bahwa keberadaan akses internet terbuka tanpa kata sandi memang menjadi bagian dari desain layanan di banyak wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Fasilitas tersebut disiapkan agar masyarakat tetap dapat berkomunikasi ketika menghadapi situasi darurat, seperti saat musibah gempa di Sumatera, ketika akses internet BAKTI dimanfaatkan warga untuk menyampaikan kondisi mereka kepada keluarga maupun pihak terkait.

Meski akses publik tetap dipertahankan, BAKTI tidak menutup kemungkinan melakukan penyesuaian berdasarkan hasil evaluasi bersama sekolah, termasuk pengaturan penggunaan jaringan agar kebutuhan pendidikan dapat diprioritaskan pada waktu tertentu.

Tantangan Pasokan Listrik

Selain persoalan pemanfaatan jaringan, faktor pasokan listrik juga menjadi tantangan tersendiri. Fadhilah mengungkapkan bahwa perangkat internet di sekolah tersebut bergantung sepenuhnya pada sumber listrik lokal. "Kadang-kadang rusak bukan karena modemnya tapi karena tidak ada listrik. Barang elektrik kan kalau naik turun dan tidak di-shut down dengan tertib, cepat rusak," tutur Fadhilah.

Dalam kunjungannya ke Desa Payung-Payung, Fadhilah bersama tim BAKTI menggelar evaluasi layanan internet gratis di sejumlah titik, termasuk sekolah dasar, kantor kepala kampung, Pos TNI AL, serta fasilitas BTS 4G.

Dari kunjungan ini, dapat disimpulkan bahwa kehadiran internet BAKTI telah membantu warga, namun mereka masih menginginkan peningkatan kualitas layanan internet terutama dari segi kecepatan, untuk mendukung kegiatan ekonomi, edukasi, pelayanan publik, hingga hiburan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga