Konflik Timur Tengah Belum Tentu Picu Kelangkaan BBM di Indonesia
Konflik Timur Tengah Belum Tentu Sebabkan Kelangkaan BBM

Konflik Timur Tengah Belum Tentu Picu Kelangkaan BBM di Indonesia

Di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah, kekhawatiran masyarakat terhadap potensi gangguan rantai pasok minyak global mulai meningkat. Namun, Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menilai konflik tersebut belum tentu berdampak pada kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Perjanjian Perdagangan Jadi Kunci Stabilitas Pasokan

Prof. Anton Agus Setyawan menjelaskan bahwa sebelum Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, mereka telah membuat perjanjian perdagangan dengan beberapa negara. Kesepakatan ini membuka peluang ekspor minyak AS ke pasar internasional, sehingga pasokan energi global tetap terjaga.

"BBM langka, saya kira kok tidak akan karena sebelum Amerika dan Israel menyerang Iran, mereka sudah membuat perjanjian perdagangan dengan beberapa negara," katanya kepada media pada Selasa, 3 Maret 2026. Pernyataan ini menegaskan bahwa stabilitas pasokan minyak dunia tidak hanya bergantung pada situasi di Timur Tengah, tetapi juga pada jaringan perdagangan yang telah dibangun sebelumnya.

Analisis Dampak Konflik terhadap Rantai Pasok Global

Meskipun konflik di Timur Tengah sering kali menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak, Prof. Anton Agus Setyawan menekankan bahwa faktor lain turut berperan. Perjanjian perdagangan yang telah disepakati dapat menjadi penyangga terhadap gejolak geopolitik di kawasan tersebut.

Dia menambahkan bahwa ekspor minyak dari Amerika Serikat ke pasar internasional melalui kesepakatan ini membantu menjaga keseimbangan pasokan energi. Hal ini mengurangi risiko kelangkaan BBM di Indonesia, yang selama ini bergantung pada impor minyak mentah dan produk turunannya.

Implikasi bagi Pasar Energi Indonesia

Dengan adanya perjanjian perdagangan tersebut, Indonesia memiliki peluang untuk menjaga stabilitas pasokan BBM dalam negeri. Pemerintah dan pelaku industri perlu memantau perkembangan konflik sambil memanfaatkan jaringan perdagangan yang ada untuk mengamankan kebutuhan energi.

Prof. Anton Agus Setyawan mengingatkan bahwa meskipun dampak langsung mungkin terbatas, kewaspadaan terhadap fluktuasi harga minyak global tetap diperlukan. Analisis ini memberikan perspektif optimis bahwa kelangkaan BBM dapat dihindari jika strategi perdagangan energi dikelola dengan baik.