KOMPAS.com - Perbedaan keyakinan tidak menjadi hambatan dalam menuntut ilmu dan mengajar, sebagaimana dialami oleh Kristina Kriswindiani Zai di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai seorang non-Muslim, Kristina berhasil meraih predikat Cumlaude saat menyelesaikan pendidikan jenjang S1 di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang berada di bawah naungan Kementerian Agama tersebut.
Prestasi Gemilang di Lingkungan Baru
Kristina mengikuti prosesi Wisuda ke-140 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang digelar pada 23-24 Mei 2026. Ia lulus dari Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,62. Kisah inspiratifnya menjadi mahasiswa di UIN Jakarta bermula dari keinginan kuat untuk kuliah di Jurusan Fisika, serta rasa penasaran untuk mencoba lingkungan baru yang berbeda dari sebelumnya.
Latar Belakang dan Motivasi
Kristina mengaku bahwa pilihannya untuk kuliah di UIN Jakarta didorong oleh minatnya pada fisika dan keinginan untuk merasakan suasana akademik yang beragam. Ia tidak merasa canggung meskipun menjadi minoritas di kampus yang mayoritas beragama Islam. Sebaliknya, ia justru merasa diterima dan didukung oleh dosen serta rekan-rekan mahasiswa.
- Kristina adalah mahasiswa non-Muslim pertama di program studinya yang lulus dengan predikat Cumlaude.
- Ia aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan non-akademik selama masa studinya.
- Keberhasilannya menunjukkan bahwa toleransi dan inklusivitas di PTKIN berjalan dengan baik.
Dukungan dari Lingkungan Kampus
Selama menempuh pendidikan, Kristina mendapatkan dukungan penuh dari pihak kampus, baik dari segi akademik maupun spiritual. Dosen-dosennya selalu memberikan bimbingan tanpa memandang latar belakang agama. Hal ini membuktikan bahwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta benar-benar menerapkan nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan.
Kristina berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya, bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Ia juga berpesan agar mahasiswa lain tidak ragu untuk memilih perguruan tinggi di luar mayoritas agamanya, karena justru di situlah kekayaan pengalaman dan perspektif baru didapatkan.



