Jepang kembali turun tangan untuk menyelamatkan mata uang yen yang terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Pada Kamis (30/5/2026), kurs dollar AS sempat diperdagangkan di atas 160 yen. Angka tersebut dianggap sebagai "garis merah" bagi pemerintah dan bank sentral Jepang karena berpotensi memicu dampak besar terhadap ekonomi domestik.
Intervensi Pemerintah Jepang
Pemerintah Jepang melalui Bank of Japan (BOJ) melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing dengan menjual dollar AS dan membeli yen dalam jumlah besar. Langkah ini diambil untuk menstabilkan nilai tukar yen yang terus terdepresiasi. Intervensi tersebut berhasil mendorong yen menguat hingga 3 persen dalam hitungan jam, membawa kurs kembali ke kisaran 155 yen per dollar AS.
Latar Belakang Pelemahan Yen
Pelemahan yen telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir, didorong oleh perbedaan kebijakan moneter antara Jepang dan AS. Bank sentral AS (Federal Reserve) mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, sementara BOJ mempertahankan suku bunga ultra-rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini menyebabkan aliran modal keluar dari Jepang dan menekan nilai yen.
Dampak Intervensi
Intervensi ini memberikan kelegaan sementara bagi pasar. Penguatan yen membantu mengurangi tekanan inflasi impor yang selama ini membebani konsumen Jepang. Namun, efektivitas jangka panjang intervensi masih dipertanyakan. Analis memperkirakan yen masih berpotensi melemah kembali jika perbedaan suku bunga tetap lebar. Pemerintah Jepang menyatakan siap melakukan intervensi lebih lanjut jika diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar.



