BPS: Mayoritas Pekerja di Indonesia Berpendidikan SD ke Bawah
Mayoritas Pekerja Indonesia Berpendidikan SD ke Bawah

Data BPS Ungkap Profil Pendidikan Pekerja Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis temuan penting mengenai profil pendidikan angkatan kerja di Indonesia. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada November 2025, mayoritas penduduk yang bekerja di tanah air memiliki pendidikan terakhir setingkat sekolah dasar (SD) atau bahkan lebih rendah. Laporan resmi ini dipublikasikan pada 5 Februari 2026, memberikan gambaran mendetail tentang kondisi ketenagakerjaan nasional.

Angka Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa total angkatan kerja Indonesia mencapai 155,27 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 147,91 juta orang telah terserap dalam pasar kerja, sementara sisanya tercatat sebagai pengangguran. "Angkatan kerja yang tidak terserap pasar kerja adalah yang disebut dengan pengangguran," jelas Amalia melalui tayangan YouTube BPS Statistics pada Kamis (5/2/2026).

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa jumlah pengangguran pada bulan November 2025 mencapai 7,35 juta orang. Data ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar angkatan kerja telah bekerja, masih terdapat tantangan signifikan dalam menyerap seluruh tenaga kerja yang tersedia.

Implikasi Data Pendidikan terhadap Pasar Kerja

Fakta bahwa mayoritas pekerja hanya berpendidikan SD ke bawah menimbulkan beberapa pertanyaan kritis:

  • Bagaimana kualitas produktivitas tenaga kerja dengan tingkat pendidikan tersebut?
  • Apa dampaknya terhadap daya saing Indonesia di pasar global?
  • Bagaimana strategi pemerintah dalam meningkatkan keterampilan pekerja?

Data BPS ini menjadi peringatan serius bagi berbagai pemangku kepentingan, terutama dalam konteks transformasi ekonomi digital yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi. Profil pendidikan pekerja yang rendah berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inovasi di berbagai sektor.

Pentingnya Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Pelatihan

Temuan ini menggarisbawahi urgensi untuk memperkuat sistem pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan meliputi:

  1. Memperluas akses pendidikan menengah dan tinggi bagi masyarakat.
  2. Mengembangkan program pelatihan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
  3. Mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor usaha.

Dengan upaya komprehensif, diharapkan profil pendidikan angkatan kerja Indonesia dapat mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun ke depan, mendukung terciptanya pasar kerja yang lebih kompetitif dan berdaya saing tinggi.