Pemerintah Jerman secara resmi memperketat aturan ketenagakerjaan bagi para pekerja di negaranya. Kanselir Jerman Friedrich Merz mengumumkan paket reformasi pajak, pensiun, dan ketenagakerjaan yang menyeluruh, termasuk kewajiban bagi pekerja untuk menyerahkan surat keterangan medis sejak hari pertama izin sakit.
Aturan Baru Cuti Sakit
Sebelum aturan baru ini diberlakukan, para pekerja di Jerman memiliki kelonggaran untuk mengambil cuti sakit hingga tiga hari tanpa perlu memeriksakan diri ke dokter. Selain itu, mereka juga bisa menelepon dokter untuk mendapatkan surat izin sakit selama satu minggu tanpa harus datang melakukan janji temu secara langsung, dilansir dari Euronews, Kamis (2/7/20206).
Dampak Reformasi
Reformasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Jerman untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi tingkat absensi yang tinggi. Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan Jerman, tingkat absensi akibat sakit di Jerman mencapai rata-rata 15 hari per pekerja per tahun, salah satu yang tertinggi di Eropa. Paket reformasi juga mencakup penyesuaian pajak dan sistem pensiun yang diharapkan dapat meringankan beban fiskal negara.
Kanselir Merz menyatakan, "Kami perlu memastikan bahwa sistem ketenagakerjaan kami adil dan berkelanjutan. Aturan baru ini akan membantu mengurangi penyalahgunaan cuti sakit dan memastikan bahwa pekerja yang benar-benar sakit mendapatkan perawatan yang layak."
Reaksi Publik
Kebijakan ini menuai beragam reaksi dari serikat pekerja dan pengusaha. Serikat pekerja Jerman menilai aturan ini terlalu ketat dan dapat membebani pekerja yang sakit ringan. Sementara itu, asosiasi pengusaha menyambut baik langkah tersebut karena dianggap dapat meningkatkan disiplin kerja dan mengurangi biaya akibat absensi yang tidak perlu.
Dengan aturan baru ini, pekerja di Jerman diwajibkan untuk mengunjungi dokter dan mendapatkan surat keterangan medis sejak hari pertama mereka tidak masuk kerja karena sakit. Jika tidak, hari sakit tersebut akan dianggap sebagai cuti tanpa bayaran atau liburan.



