Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengakui bahwa tidak seluruh perlintasan sebidang kereta api di Jakarta dilengkapi dengan palang pintu. Pernyataan ini disampaikan menyusul kecelakaan KRL di Bekasi yang menjadi sorotan pemerintah pusat. Rano menegaskan bahwa kondisi ini merupakan catatan penting yang harus terus dievaluasi.
Evaluasi Perlintasan Sebidang
Menurut Rano, meskipun tidak semua perlintasan memiliki palang pintu, keberadaan petugas di lapangan menjadi langkah mitigasi sementara. "Jakarta memang ada beberapa lintasan yang mungkin tidak tertutup, tapi minimal ada yang jaga. Nah, tapi ini bagian yang harus kita evaluasi selalu," ujarnya di Jakarta Barat, Rabu (29/4/2026).
Ia menambahkan bahwa evaluasi menyeluruh diperlukan untuk meminimalkan potensi kecelakaan. Persoalan di Bekasi, menurutnya, merupakan ranah pemerintah daerah Jawa Barat yang ditangani bersama PT KAI dan pemerintah pusat untuk mencari solusi jangka panjang.
Harapan Agar Kecelakaan Tidak Terulang
Rano berharap peristiwa kecelakaan serupa tidak terulang kembali. "Ya mudah-mudahan tidak terjadi lagi kecelakaan yang terjadi pada waktu kemarin," jelasnya. Kecelakaan KRL yang dihantam KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur terjadi pada Senin (27/4/2026) malam, menyebabkan 106 orang menjadi korban. Hingga Rabu (29/4/2026), 16 orang dinyatakan meninggal dunia, 46 orang masih dalam observasi, dan sisanya luka-luka.
Langkah Mitigasi dan Koordinasi
Pemprov DKI berkomitmen untuk terus meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang. Koordinasi dengan PT KAI dan pemerintah pusat menjadi kunci dalam mencari solusi jangka panjang. Rano menekankan pentingnya evaluasi berkala untuk mencegah kecelakaan serupa di masa mendatang.



