Dari Duka ke Harapan: Huntara Bener Meriah Pulihkan Senyum Penyintas Bencana
Huntara Bener Meriah Pulihkan Senyum Penyintas Bencana

Senyum mulai kembali terlihat di wajah para penyintas bencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, setelah hunian sementara (huntara) yang layak mulai ditempati. Kondisi ini menjadi titik balik bagi warga yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan pascabencana hidrometeorologi. Salah satunya dirasakan Kartini, yang tak kuasa menahan haru saat bertemu Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, saat peninjauan huntara di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Senin (20/4/2026).

Dari Masa Sulit ke Kondisi Lebih Baik

Kartini mengenang pertemuan pertamanya dengan Tito dua bulan lalu dalam kondisi penuh duka, setelah kehilangan suami akibat bencana. Saat itu, ia masih tinggal di tenda darurat bersama kedua anaknya.

"Waktu itu saya cerita, dan Pak Tito tahu, saya kehilangan suami saya. Suami saya hanyut, saya bingung, gimana ini anak-anak saya. Waktu itu Pak Tito bilang bakal secepatnya bangunkan huntara, supaya saya dan anak-anak tinggal (di hunian) layak," kata Kartini.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sore itu, Kartini dengan wajah sayu memberanikan diri menerobos sekumpulan penyintas bencana untuk menghampiri Tito yang sedang meninjau kondisi huntara Desa Tunyang. Ia bercerita bahwa kondisi dirinya dan dua anaknya saat ini sudah jauh lebih baik setelah tinggal di huntara.

"Saya cuma mau mengucapkan terima kasih sudah dibangunkan huntara. Jujur sangat meredakan (kesulitan hidup) kami ketimbang waktu di tenda," kata Kartini.

Dalam pertemuan yang singkat itu, Kartini sempat bercerita kepada Tito tentang keadaannya dua bulan lalu, saat masih dibayangi kekalutan tinggal di tenda darurat. Tanpa waktu lama, Tito menyadari bahwa perempuan di hadapannya adalah penyintas bencana yang pernah meluapkan kegelisahan nasib anaknya setelah suaminya meninggal.

"Beliau langsung tahu saya, begitu saya bilang 'saya Kartini'. Beliau langsung tanya gimana kabar anak-anak saya. Pak Tito masih ingat betul, waktu pertama kali menemui saya dan anak-anak di tenda. Saya jawab kondisi kami baik," kata Kartini.

Ibu dua anak itu mengaku asa untuk memperbaiki hidup kembali bangkit setelah mendengar dari Tito bahwa pemerintah akan segera membangun hunian tetap (huntap) untuk penyintas bencana di Bener Meriah. Sebab, meskipun tinggal di huntara relatif nyaman, Kartini ingin menata hidup bersama dua anaknya di huntap.

"Tapi saya ingin berterima kasih kepada Pak Tito setelah membantu kami. Kami sangat senang tinggal di huntara, kondisi kami sudah membaik," kata Kartini.

Fasilitas Huntara Lengkap, Bantuan Terus Disalurkan

Sementara itu, saat meninjau huntara di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah, Tito mengungkapkan bahwa kondisi penyintas bencana di Desa Tunyang sudah jauh lebih membaik dibandingkan dua bulan lalu, seiring rampungnya pembangunan huntara yang dilengkapi fasilitas publik memadai berupa sanitasi, tempat bermain anak, fasilitas olahraga, aula, dan masjid untuk kegiatan masyarakat.

"Ini (huntara) luar biasa, saya enggak banyak melihat yang seperti ini. Sangat rapi dan mereka juga terlihat sekali wajah masyarakat jauh beda waktu kita dua bulan lalu datang, mereka menangis, di sini mereka sudah tersenyum tertawa," kata Tito usai meninjau lokasi huntara Desa Tunyang, Timang Gajah, Bener Meriah, Senin (20/4/2026).

Sebagai langkah lanjutan, Tito mengatakan akan memastikan aneka bantuan segera tersalurkan, yang terdiri dari bantuan jaminan hidup (jadup) senilai Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan. Selain itu, ada juga bantuan isi hunian senilai Rp3 juta dan bantuan ekonomi senilai Rp5 juta per kepala keluarga. Bantuan jadup, isi hunian, dan stimulan ekonomi merupakan salah satu skema bantuan pascabencana yang diberikan untuk menjamin keberlangsungan hidup penyintas bencana selama menanti hunian tetap (huntap) rampung dibangun.

Lebih lanjut, Tito juga mengingatkan jajaran Pemerintah Kabupaten Bener Meriah untuk mempercepat dan melengkapi pendataan penerima huntap. Sebab, terdapat dua model pembangunan huntap yang perlu divalidasi, yakni huntap in-situ atau di lokasi semula dan huntap komunal dalam satu kompleks.

"Jadi saya memerlukan data itu secepat mungkin. Nanti tolong (mereka) didatangi, Bapak Bupati (Bener Meriah Tagore Abubakar), apa pilihan dari warga-warga," kata Tito.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga