Gubernur Jateng dan Kepala BNPB Tinjau Penanganan Banjir di Semarang dan Demak
Gubernur Jateng dan BNPB Tinjau Penanganan Banjir Semarang-Demak

Gubernur Jateng dan Kepala BNPB Tinjau Langsung Penanganan Banjir di Semarang dan Demak

Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto telah meninjau langsung rumah pompa Sringin dan Kolam Retensi Terboyo di Kota Semarang. Tinjauan ini dilakukan untuk memastikan bahwa upaya penanganan banjir di kawasan Kaligawe Semarang dan Sayung Demak berjalan dengan optimal dan efektif.

Kondisi Lapangan Membaik Berkat Kolaborasi

Kepala BNPB, Suharyanto, mengungkapkan bahwa mengeringnya banjir di daerah Kaligawe tidak lepas dari kerja kolaboratif yang dilakukan oleh semua elemen, termasuk pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, serta masyarakat. "Sejak banjir pertama terjadi, pemerintah telah melaksanakan rapat koordinasi dan langkah-langkah penanganan terpadu," katanya dalam keterangan tertulis pada Senin, 2 November 2025.

Ia menyatakan bahwa kondisi di lapangan kini jauh lebih baik dibandingkan dengan pekan lalu. Saat rombongan meninjau wilayah Kaligawe, genangan air hanya tersisa di beberapa titik tertentu. "Dua-tiga hari terakhir ini kami pastikan sebagian besar lokasi sudah kering dan terkendali," ujarnya menegaskan.

Rencana Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang

Meskipun kondisi telah membaik, upaya penanganan banjir dari pemerintah di kawasan tersebut akan terus berlanjut hingga persoalan ini tuntas, melalui pendekatan jangka pendek, menengah, dan panjang.

  • Jangka Pendek: Dilakukan melalui pompanisasi, evakuasi warga terdampak, dan pengendalian sementara air di titik-titik utama.
  • Jangka Menengah: Meliputi penambahan pompa, perbaikan drainase, serta pembuatan sodetan baru menuju Kolam Retensi Unissula dan Sungai Sayung.
  • Jangka Panjang: Direncanakan penyelesaian sistem pengendalian banjir permanen pada tahun 2026-2027. Menurut Suharyanto, proyek pengendalian banjir besar di kawasan tersebut baru mencapai sekitar 40 persen dari rencana Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

"Intinya, pemerintah pusat, provinsi, dan daerah bersatu padu. Semoga dengan sistem pompa permanen dan kolam retensi yang sudah diperkuat, Semarang akan lebih aman dari banjir besar di masa mendatang," ucap Suharyanto.

Peran Vital Kolam Retensi Terboyo

Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pemanfaatan Kolam Retensi Terboyo memiliki peran vital dalam sistem pengendalian banjir di wilayah timur Semarang. Kolam dengan luas sekitar 189 hektare ini mampu menampung hingga 6 juta meter kubik air dan dilengkapi dengan rumah pompa besar berkapasitas 5.000 liter per detik per unit.

Selain itu, kolam ini juga terintegrasi dengan tanggul laut dan sistem drainase utama, sehingga berfungsi menurunkan genangan di Jalan Kaligawe serta kawasan industri di sekitarnya. Luthfi menambahkan bahwa banjir di Kota Semarang dan Kabupaten Demak beberapa hari terakhir menjadi pelajaran berharga agar daerah tersebut tidak banjir lagi, dengan memperkuat koordinasi antara Pemprov Jawa Tengah, Pemkot Semarang, BNPB, dan Kementerian PU yang telah terjalin sejak awal tanggap darurat.

Upaya Tambahan dan Peringatan

BNPB juga turut memperkuat upaya di lapangan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), melibatkan dua armada yang masing-masing berpangkalan di Bandara Ahmad Yani dan Adi Sumarmo untuk mengurangi potensi hujan ekstrem di wilayah Semarang dan sekitarnya.

Melalui kerja kolaboratif, berbagai upaya telah dilakukan, termasuk pengoperasian 48 pompa air di sejumlah sungai, pembuatan sodetan, evakuasi warga terdampak, pengaktifan posko logistik dan kesehatan, serta dapur umum. "Artinya, kerja-kerja kolaboratif ini akhirnya bisa memastikan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu. Ini juga menjadi model bahwa kita bisa bekerja bersama," kata Luthfi.

Meskipun demikian, masyarakat diminta tetap waspada, mengingat cuaca ekstrem diperkirakan masih akan terjadi hingga awal tahun 2026. Hal ini menjadi perhatian serius untuk memastikan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.