Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Cetak Rekor Terendah Sepanjang Sejarah
Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Rekor Terendah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan pada Selasa, 12 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dolar AS. Posisi ini merupakan level penutupan terendah sepanjang sejarah atau all time low (ATL) bagi rupiah terhadap mata uang Paman Sam.

Pelemahan Rupiah Tembus Level Kritis

Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh level psikologis Rp 17.500 per dolar AS pada perdagangan hari yang sama. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan global yang kuat, termasuk kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) dan ketidakpastian pasar keuangan dunia. Analis menilai bahwa faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan kekhawatiran resesi global turut mendorong pelemahan rupiah.

Dampak Pelemahan Rupiah

Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan dampak langsung terhadap perekonomian Indonesia, terutama pada sektor impor dan utang luar negeri. Harga barang impor diperkirakan naik, sementara beban pembayaran utang dalam dolar AS menjadi lebih berat. Di sisi lain, eksportir justru diuntungkan karena daya saing produk Indonesia di pasar global meningkat. Pemerintah dan Bank Indonesia pun terus berupaya melakukan intervensi untuk menstabilkan kurs rupiah.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram
  • Rupiah melemah 115 poin atau 0,66 persen dalam sehari.
  • Level penutupan Rp 17.529 per dolar AS merupakan rekor terendah.
  • Tekanan global dan penguatan dolar AS menjadi penyebab utama.

Para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap fluktuasi nilai tukar dan melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko kerugian. Bank Indonesia juga terus memantau pergerakan rupiah dan siap mengambil langkah-langkah stabilisasi sesuai kebutuhan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga