4 Kelas SDN di Kebayoran Lama Roboh, 200 Siswa Numpang di Sekolah Lain
4 Kelas SDN Kebayoran Lama Roboh, 200 Siswa Numpang

Bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kebayoran Lama Selatan 09 di Jakarta Selatan roboh sejak dua tahun lalu. Sebanyak lima ruangan rusak berat, terdiri dari empat ruang kelas dan satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Hingga kini, bangunan tersebut masih terbengkalai tanpa ada perbaikan.

Kronologi Robohnya Bangunan Sekolah

Menurut Evi (33), orang tua siswa kelas 5, peristiwa itu terjadi saat libur pemilihan kepala daerah (pilkada) pada 27 November 2024. Karena libur, tidak ada aktivitas belajar mengajar dan tidak ada korban jiwa. "Awalnya ya itu kejadian kan pas libur pilkada. Jadi nggak ada yang tahu, penjaga sekolah pun nggak ada yang tahu," kata Evi kepada wartawan pada Selasa (21/7/2026).

Bangunan tidak roboh seketika. Warga sekitar melihat tanda-tanda kerusakan pada pagi hari sekitar pukul 06.30-07.00. "Robohnya itu juga nggak langsung, pelan, nggak langsung 'bruk' seperti ini. Pelan," cerita Evi. Baru pada sore hari saat hujan deras, struktur bangunan yang sudah miring akhirnya ambruk total.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak pada Proses Belajar Mengajar

Akibat robohnya sekolah, sebanyak 200 siswa terpaksa menumpang di SDN Kebayoran Lama Selatan 11 yang berada di sebelahnya. Karena keterbatasan ruang, siswa harus masuk sekolah pada siang hari, dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Hal ini membuat anak-anak kehilangan waktu untuk kegiatan keagamaan seperti mengaji yang biasanya dilakukan setelah Ashar.

"Karena kan numpang jadi sekolah sore baru kita, jadinya anak-anak juga mungkin kurang nyaman namanya kita menumpang ya gitu kan. Jadinya anak-anak kurang untuk leluasa," tutur Evi. Ia juga mengeluhkan bahwa anak-anak yang tadinya rajin mengaji kini jarang melakukannya karena pulang sore.

Belum Ada Tindakan Perbaikan

Pihak sekolah sudah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan, namun hingga dua tahun berlalu belum ada tindakan nyata. Evi menyebutkan alasan yang diterima adalah pengalihan anggaran ke sekolah lain yang dianggap lebih parah. "Iya kalau waktu yang pertama itu yang kita ketemu sih ya maksudnya ya anggarannya lagi dialihkan ke yang lain dulu, sekolah yang lain dulu karena ada sekolahan yang lebih katanya yang lebih parah katanya," ujar Evi menirukan penjelasan yang diterima pada 2025.

Para orang tua murid berharap ada perhatian langsung dari Pemprov DKI Jakarta. "Cuma kita ingin Pemprov DKI bisa tolong bantu untuk sekolah kami ini gitu kan, agar disegerakan, anak-anak agar bisa nyaman untuk belajar kembali seperti biasanya gitu," sebut Evi. Ia juga berharap Gubernur DKI Jakarta segera menindaklanjuti perbaikan sekolah tersebut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga