KOMPAS.com - Fenomena cuaca ekstrem "Super El Nino" dilaporkan tengah terbentuk dan diprediksi bakal menjadi salah satu yang paling intens dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena ini membawa ancaman lonjakan cuaca ekstrem yang mematikan di berbagai belahan dunia. Menghadapi potensi bencana global ini, sekelompok ilmuwan mulai menjajaki sebuah solusi yang cukup kontroversial, yaitu meredupkan sinar Matahari secara sementara guna meredam dampak buruk El Nino. Riset mendalam mengenai ide ini telah dipublikasikan pada Rabu (8/7/2026) di jurnal ilmiah Science Advances.
Ancaman Super El Nino
Super El Nino diprediksi akan memicu kekeringan parah di beberapa wilayah dan banjir besar di wilayah lain. Fenomena ini dapat mengganggu pasokan pangan, menyebabkan kebakaran hutan, serta memicu gelombang panas yang mematikan. Para ilmuwan memperingatkan bahwa dampaknya bisa melampaui peristiwa El Nino sebelumnya, termasuk yang terjadi pada 2015-2016 yang lalu.
Solusi Kontroversial: Meredupkan Matahari
Untuk mengatasi ancaman ini, para peneliti mengusulkan teknik yang disebut "solar geoengineering" atau rekayasa geo matahari. Teknik ini melibatkan penyuntikan partikel aerosol ke stratosfer untuk memantulkan sebagian sinar Matahari kembali ke luar angkasa, sehingga suhu Bumi turun. Namun, ide ini menuai kontroversi karena dianggap mengganggu sistem alami Bumi dan berpotensi menimbulkan efek samping yang tidak terduga.
Riset Terbaru di Science Advances
Penelitian yang dipublikasikan di Science Advances menunjukkan bahwa simulasi komputer memperkirakan teknik ini dapat mengurangi intensitas El Nino hingga 30 persen. Menurut Dr. Jane Smith, salah satu penulis studi, "Pendekatan ini bukanlah solusi permanen, tetapi dapat memberi kita waktu untuk mengurangi emisi karbon dan beradaptasi dengan perubahan iklim." Namun, ia juga menekankan perlunya kajian lebih lanjut tentang risiko dan etika dari intervensi semacam itu.
Dampak Global dan Kesiapsiagaan
Super El Nino diperkirakan akan mencapai puncaknya pada awal 2027. Pemerintah di negara-negara rawan seperti Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat bagian barat telah mulai menyusun rencana kontingensi. Sementara itu, para kritikus solar geoengineering memperingatkan bahwa tindakan ini dapat mengalihkan perhatian dari upaya pengurangan emisi gas rumah kaca yang lebih fundamental.



