PSEL Bali Targetkan Olah 1.500 Ton Sampah per Hari, Rampung 2028
PSEL Bali Target Olah 1.500 Ton Sampah per Hari, Rampung 2028

Pembangunan fasilitas Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali memasuki fase implementasi setelah melalui berbagai tahapan teknis, investasi, dan seleksi teknologi. Proyek ini ditargetkan rampung dan beroperasi bertahap pada semester I-2028 dengan kapasitas mengolah 1.500 ton sampah per hari, setara sekitar 500 truk pengangkut sampah.

Lokasi dan Teknologi PSEL Bali

Menurut Chief Executive Officer (CEO) PT Daya Energi Bersih Nusantara (Danera) Fadli Rahman, fasilitas WtE akan dibangun di kawasan Pedungan, Denpasar Selatan. Proses pengembangan proyek telah dimulai sejak terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 pada Oktober 2025.

PSEL Bali menggunakan teknologi moving grate incinerator yang telah diterapkan pada sekitar 75-80 persen fasilitas WtE di dunia. Teknologi ini mengacu pada standar emisi European Industrial Emissions Directive (EU IED) yang lebih ketat dibandingkan insinerator generasi lama.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Proses Pengolahan dan Manfaat Lingkungan

Fadli menjelaskan bahwa sampah campuran akan dikeringkan selama lima hingga tujuh hari untuk menurunkan kadar air, kemudian dibakar pada suhu di atas 850 derajat Celsius guna mengurai senyawa berbahaya. Panas hasil pembakaran menghasilkan uap bertekanan tinggi yang menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik yang disalurkan ke jaringan PLN.

Residu dari proses tersebut juga dimanfaatkan kembali. Air lindi diolah menjadi air bersih, sedangkan bottom ash dimanfaatkan sebagai bahan baku batako dan material konstruksi. Dengan teknologi tersebut, emisi per ton sampah diklaim dapat ditekan hingga 80 persen dibandingkan sampah yang ditumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Dampak Positif bagi Masyarakat dan Energi

Menurut Fadli, PSEL Bali diproyeksikan mampu mengolah sekitar 44 persen dari total timbulan sampah di Pulau Bali serta mengurangi risiko kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar TPA. Proyek ini juga diperkirakan membuka hingga 1.200 lapangan kerja hijau dengan mengutamakan tenaga kerja lokal.

Dari sisi energi, fasilitas itu ditargetkan menghasilkan listrik yang setara dengan kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga setiap tahun. Listrik yang dihasilkan akan diserap oleh PLN melalui Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang dengan tarif mengacu pada Perpres Nomor 109 Tahun 2025 sebesar 0,20 dolar Amerika Serikat (AS) per kilowatt-jam (kWh).

Investasi dan Proyek Strategis Nasional

Fadli menambahkan bahwa skema tarif tersebut diharapkan meningkatkan kelayakan pembiayaan proyek sehingga lebih menarik bagi investor. Pembangunan PSEL juga melibatkan mitra teknologi internasional yang dipilih melalui proses seleksi teknologi.

Pemerintah sebelumnya meresmikan pembangunan fasilitas WtE tahap pertama di Bali pada awal pekan ini. Peresmian tersebut menandai dimulainya pengembangan proyek PSEL di tiga wilayah, yakni Denpasar Raya, Kota Bekasi, dan Kota Bogor. Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional berdasarkan Perpres Nomor 109 Tahun 2025 dan berada di bawah koordinasi PT Daya Energi Bersih Nusantara (Danera) yang dibentuk oleh Danantara Indonesia.

Bali menjadi lokasi pertama yang memulai pembangunan fisik dengan nilai investasi sekitar Rp 3 triliun atau setara 170,4 juta dolar AS. Pulau tersebut dipilih karena menghadapi persoalan sampah yang semakin mendesak seiring terbatasnya kapasitas tempat pemrosesan akhir.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga