Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di kota suci Mashhad pada Kamis (09/07/2026) berubah menjadi pertunjukan politik yang sarat pesan perlawanan dan balas dendam. Ribuan pelayat berpakaian hitam memadati jalan-jalan, mengibarkan bendera merah simbol tuntutan balas dendam, serta poster yang menyerukan kematian bagi Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Jenazah Khamenei dimakamkan di kompleks makam Imam Reza, situs Muslim Syiah paling suci di Iran, setelah enam hari masa berkabung publik di lima kota Iran dan Irak. Pemakaman ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS, di mana Garda Revolusi Iran menuduh AS mengebom dua jembatan kereta api penghubung Teheran-Mashhad untuk mengalihkan perhatian dari prosesi.
Khamenei tewas dalam serangan Israel pada 28 Februari 2026 yang menghantam kediamannya di Teheran, menewaskan pula beberapa anggota keluarganya, termasuk cucu perempuannya yang berusia 14 bulan, Zara. Serangan itu menjadi awal perang Iran melawan AS dan Israel. Penerusnya, putranya Mojtaba Khamenei (56 tahun), tidak terlihat di publik sejak dilaporkan luka serius dalam serangan yang sama dan tidak hadir dalam seluruh rangkaian pemakaman.
Prosesi Pemakaman yang Sarat Pesan Politik
Pada Senin (06/07), iring-iringan jenazah sepanjang 10 kilometer di Teheran menjadi momen paling penting. Jutaan pelayat memadati jalan, meneriakkan slogan "Mati bagi Amerika" dan "Mati bagi Israel". Namun, tidak semua warga ikut serta; banyak yang memilih menjauh akibat trauma perang, inflasi sekitar 80%, dan gelombang demonstrasi anti-pemerintah Januari lalu yang ditindas keras.
"Kepergian pemimpin kami terasa lebih berat daripada kehilangan orang tua. Hanya kematian Trump dan Netanyahu yang dapat meredakan kesedihan kami," kata Hoda, ibu rumah tangga 35 tahun, kepada AFP. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menepis klaim Trump bahwa tangisan pelayat palsu, mengatakan "air mata muncul dari rasa sakit dan duka yang bergolak."
Ketidakhadiran Mojtaba Khamenei dan Ancaman Pembalasan
Ketidakhadiran Mojtaba Khamenei semakin mencolok saat tiga saudara laki-lakinya hadir di Masjid Raya Musalla. Pejabat Iran menyatakan ancaman Israel untuk membunuhnya masih berlanjut. Seorang perempuan dari Hamadan mengaku berharap dia aman dari Trump dan Netanyahu. Sementara itu, patung raksasa berbentuk kepalan tangan di Lapangan Enqelab dijuluki "kepalan tangan perlawanan" untuk mengirim pesan bahwa Iran tak terkalahkan.
Seorang pria bernama Mojtaba menyampaikan kepada BBC: "Segera Anda akan melihat tanda-tanda pembalasan di puncak Gedung Putih. Warna Gedung Putih akan berubah menjadi warna bendera merah saya." Seorang pejabat pemerintah mengakui kemarahan nyata di kalangan garis keras yang menentang kesepakatan baru dengan AS.
Perundingan Damai di Tengah Konflik
Tiga pekan sebelumnya, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang menyerukan penghentian permusuhan dan pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan waktu dua bulan untuk mencapai perjanjian final mencakup program nuklir, pencabutan sanksi, dan gencatan senjata permanen. Qatar selaku mediator menyatakan kemajuan dalam perundingan tidak langsung di Doha. Namun, AS kembali melancarkan serangan pada Kamis malam, dan Garda Revolusi Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar.
Para pemimpin baru Iran kini harus melanjutkan perundingan untuk mengatasi krisis ekonomi parah melalui pelonggaran sanksi. Di tengah kerumunan, sekitar 400 influencer media sosial hadir atas undangan pemerintah. Dua perempuan muda Iran berbisik bahwa "suara sejati revolusi" justru terdengar dalam aksi protes beberapa bulan lalu.
Iran memasuki era baru di bawah Pemimpin Tertinggi ketiga, Mojtaba Khamenei, yang belum tampak ke publik. Seperti disampaikan peneliti Mohammad Eslami, "Prosesi ini dirancang untuk menampilkan Khamenei bukan sekadar pemimpin nasional, melainkan tokoh agama dan politik yang melampaui batas negara." Namun, kritikus Karim Sadjadpour menilai, "Revolusi yang dia pertahankan ditujukan bagi dunia yang kini sudah tidak lagi ada."



