PSEL Bali Mulai Dibangun, Harapan Baru Atasi 3.500 Ton Sampah Per Hari
PSEL Bali Dibangun, Target Atasi 3.500 Ton Sampah Harian

Pemerintah bersama Danantara Indonesia memulai pembangunan Fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, Bali, Rabu (8/7/2026). Proyek ini diharapkan menjadi solusi atas darurat sampah di Bali yang mencapai sekitar 3.500 ton per hari, dengan lebih dari 50 persen sampah tidak terkelola.

Urgensi Penanganan Sampah di Bali

Peneliti Persampahan dan Perubahan Iklim Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika, menekankan bahwa masalah sampah di Bali sudah sangat mendesak. "Masalah sampah di Bali sudah sangat urgent, mengingat tingginya persentase sampah tidak terkelola yang melebihi 50 persen. Dengan mangkraknya berbagai fasilitas persampahan, mulai dari TPST hingga TPA, tentu meningkatkan kebocoran sampah ke lingkungan," katanya.

Menurut Ida, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) karena mengancam kebersihan lingkungan dan sektor pariwisata. Penumpukan sampah juga meningkatkan risiko pencemaran air, emisi gas rumah kaca, dan kebakaran akibat akumulasi gas metana.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

PSEL sebagai Transformasi Pengelolaan Sampah

Pembangunan PSEL di Denpasar Selatan merupakan bagian dari transformasi pengelolaan sampah nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Ida menilai langkah ini sebagai sinyal positif bahwa pemerintah berkomitmen membenahi sistem persampahan di Bali. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan PSEL sangat bergantung pada perubahan tata kelola sampah, terutama pemilahan sejak dari sumber.

"Pembangunan PSEL tentu harus diapresiasi bahwa pemerintah masih ada niat untuk memperbaiki sistem persampahan di Bali. Namun, hal ini harus diikuti dengan perubahan tata kelola persampahan di Bali. Hal ini mengingat bahwa mengolah sampah menjadi energi listrik bukan hal yang mudah. Masyarakat harus memilah sampahnya. Kalau sampahnya tercampur, akan bisa dipastikan PSEL akan gagal karena sampah tercampur memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga proses pembangkitan listrik akan membutuhkan energi yang terlalu besar. Jika terjadi, akan sangat disayangkan," ujarnya.

Edukasi Pemilahan Sampah Kunci Sukses PSEL

Ida menekankan edukasi kepada masyarakat tentang pemilahan sampah harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan PSEL. Keberadaan fasilitas modern tidak akan optimal jika kebiasaan masyarakat tidak berubah. Bali memiliki pengalaman panjang menerima berbagai program pengelolaan sampah dari pemerintah pusat dan lembaga internasional, namun banyak yang tidak berkelanjutan karena tidak disertai perubahan tata kelola menyeluruh.

"Harapannya pengelolaan masalah sampah di Bali dapat dilakukan secara sistematis. Pembangunan PSEL tentu jadi momentum baik, tapi harus diikuti oleh perbaikan tata kelola. Karena sudah terbukti beberapa dekade ini sudah berkali-kali Bali mendapatkan proyek pengelolaan sampah dari pemerintah pusat maupun dunia internasional. Hampir semuanya gagal karena hal yang sama, yaitu tidak diikuti perubahan tata kelola sampah. Kita tidak mau ini terjadi lagi pada PSEL. Pemerintah daerah harus serius membangun sistem, dan masyarakat Bali harus mau berubah," paparnya.

Deregulasi Percepat Pembangunan PSEL

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan percepatan pembangunan PSEL dimungkinkan setelah pemerintah menyederhanakan berbagai regulasi yang selama ini menghambat penyelesaian persoalan sampah. "Saya menyampaikan terima kasih kepada Danantara Indonesia, pemerintah daerah, PLN, dan seluruh pihak yang bekerja bersama mewujudkan dimulainya pembangunan PSEL Bali. Program ini dapat berjalan karena hambatan regulasi yang selama bertahun-tahun memperlambat penyelesaian persoalan sampah mulai kita sederhanakan melalui deregulasi. Dengan aturan yang lebih jelas, kerja sama yang kuat, dan tata kelola yang baik, saya yakin pengelolaan sampah dapat kita percepat untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan," kata Zulkifli.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Komitmen Danantara Indonesia

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan pembangunan PSEL merupakan bagian dari upaya mempercepat penyelesaian persoalan sampah nasional dengan mengedepankan teknologi teruji dan standar tata kelola yang baik. "Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, masalah sampah adalah tantangan kita bersama yang harus diselesaikan secepat mungkin, sehingga tidak menjadi beban bagi generasi mendatang. PSEL hadir untuk mengatasi dampak sampah terhadap lingkungan hidup, kesehatan, dan keselamatan dengan menggunakan teknologi yang sudah terbukti. Pelaksanaan PSEL oleh Danantara Indonesia tidak hanya dilakukan secara cepat, tetapi juga dengan penuh kehati-hatian dan standar tata kelola tertinggi," ujarnya.

Teknologi dan Dampak PSEL Bali

PSEL Bali menggunakan teknologi moving grate incinerator yang dirancang mengikuti standar lingkungan European Industrial Emissions Directive (EU IED) dan dilengkapi sistem Air Pollution Control System (APCS) untuk mengendalikan emisi. Fasilitas ini diproyeksikan mampu menurunkan hingga 80 persen emisi per ton sampah dibandingkan metode pembuangan terbuka ke TPA, menciptakan sekitar 1.200 lapangan kerja hijau, serta menjadi pusat edukasi publik mengenai pengelolaan sampah modern. Pemerintah menargetkan pembangunan PSEL menjadi solusi mengurangi ketergantungan pada TPA sekaligus menghasilkan energi listrik dari residu sampah.