Pemerintah China melaporkan pada Rabu (15/7) bahwa perekonomian negara itu tumbuh 4,3% pada kuartal kedua 2026 secara tahunan. Angka ini menjadi yang terlemah dalam lebih dari tiga tahun, jauh di bawah perkiraan dan lebih rendah dari pertumbuhan 5% pada kuartal pertama. Meskipun ekspor melonjak berkat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan permintaan global yang tinggi terhadap kendaraan listrik buatan China, konsumsi domestik dan investasi masih tertinggal.
Ekspor Meningkat Tajam, Namun Konsumsi Domestik Lesu
Data bea cukai menunjukkan ekspor China naik 17,6% pada paruh pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan melonjak 27% pada Juni. Namun, lonjakan ekspor ini belum mampu mendorong perekonomian secara keseluruhan karena konsumsi dalam negeri dan investasi masih lemah. Beijing dinilai berhasil meredam dampak ekonomi akibat perang Iran, meskipun lonjakan harga energi mendorong inflasi global.
Sejumlah ekonom menilai perekonomian China semakin tidak seimbang. Dukungan negara dan investasi swasta terkonsentrasi pada teknologi mutakhir seperti AI, semikonduktor, dan robotika, sementara sektor lain seperti manufaktur bernilai tambah rendah dan industri jasa yang banyak menyerap tenaga kerja justru tertinggal. Ekspor produk teknologi tinggi seperti kendaraan listrik, semikonduktor, dan peralatan elektronik lainnya meningkat tajam berkat dukungan besar pemerintah setelah para pemimpin China memprioritaskan pengembangan teknologi canggih.
Surplus Perdagangan Tertinggi Sepanjang Sejarah
Tahun lalu, China mencatat surplus perdagangan global sebesar 1,2 triliun dolar AS (sekitar Rp21.688 triliun), jumlah tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini memicu keluhan dari para pembuat kebijakan di berbagai negara terkait ketidakseimbangan perdagangan dengan ekonomi terbesar kedua di dunia. Banyak pihak menilai subsidi besar dari pemerintah China menyebabkan kelebihan produksi barang manufaktur yang kemudian diekspor ke pasar global.
Perkembangan pesat AI dan robotika juga menimbulkan kekhawatiran soal lapangan kerja. Keluarga-keluarga di China mengurangi belanja untuk pembelian besar akibat krisis berkepanjangan di sektor properti serta ketidakpastian mengenai lapangan pekerjaan dan tingkat upah.
Pemerintah Berupaya Jaga Stabilitas Lapangan Kerja
Wakil Kepala Biro Statistik Nasional China Mao Shengyong mengatakan bahwa ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan di dalam negeri masih menjadi persoalan serius, terutama di tengah situasi global yang semakin tidak pasti. Ia menambahkan bahwa China akan terus membangun pasar domestik yang kuat dan memberikan dukungan untuk menjaga stabilitas lapangan kerja, dengan fokus pada manufaktur berteknologi tinggi dan upaya mendorong "pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas."
Kepala Investasi Multi-Aset BNP Paribas Securities (China) Wei Li menyatakan bahwa ekonomi China tengah mengalami "transisi yang signifikan." Sepanjang 2026, pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5–5%, lebih rendah dibanding target 5% pada tahun lalu.
Proyeksi IMF
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China tahun ini sebesar 0,2 poin persentase menjadi 4,6%. Namun, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan melambat menjadi 4,1% pada 2027.



