BMKG: Puncak Kemarau 2026 Agustus-September, Lebih Kering dan Panjang
BMKG: Puncak Kemarau 2026 Agustus-September

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa puncak musim kemarau di tahun 2026 diprediksi terjadi pada Agustus hingga September. Kemarau tahun ini diproyeksikan lebih kering dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan normalnya.

Prediksi Puncak Kemarau 2026

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam konferensi pers di kantornya pada Kamis (30/7/2026) mengungkapkan bahwa prediksi ini konsisten dengan rilis sebelumnya pada Maret dan Mei 2026. "Seperti yang kami sampaikan di press rilis bulan Maret dan Mei yang lalu, bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 ini diprediksi terjadi mayoritas pada bulan Agustus hingga September tahun 2026," ujarnya.

Berdasarkan data BMKG, sebanyak 48,8% luasan wilayah Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada bulan Agustus. Sementara itu, sekitar 25% wilayah lainnya akan mengalami puncak kemarau pada bulan September. "Masing-masing 48,8% luasan wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemaraunya di bulan Agustus, dan September sekitar 25%," jelas Ardhasena.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Karakteristik Kemarau: Lebih Kering dan Lebih Panjang

Sesuai dengan prediksi sebelumnya, musim kemarau tahun 2026 akan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis. Selain itu, durasi kemarau juga diprediksi lebih panjang dari normal. "Juga konsisten dengan press rilis yang kami sampaikan di bulan Maret dan Mei yang lalu bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang di bawah normal atau lebih kering, dan juga mengalami durasi yang lebih panjang dari normalnya," beber Ardhasena.

Fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor dinamika atmosfer, termasuk pengaruh sirkulasi monsun dan potensi fenomena iklim global seperti El Nino. BMKG sebelumnya juga memprediksi El Nino akan berlangsung hingga kuartal pertama tahun 2027, yang turut memperkuat kondisi kemarau yang lebih kering.

Wilayah yang Terdampak

Ardhasena menjelaskan bahwa musim kemarau di Indonesia selalu bermula dari wilayah bagian tenggara, tepatnya dari Nusa Tenggara Timur (NTT). "Musim kemarau selalu bermula dari wilayah Nusa Tenggara Timur lalu kemudian secara perlahan merambat ke barat. Di gambar ini kita juga melihat bahwa wilayah-wilayah Indonesia di sekitar ekuator itu masih banyak yang berwarna hijau," tuturnya.

Wilayah yang berada di sekitar ekuator, seperti sebagian Sumatera dan Kalimantan, masih memiliki tingkat kehijauan yang menunjukkan bahwa kemarau belum mencapai puncaknya di daerah tersebut. Namun, BMKG mengingatkan bahwa seluruh wilayah Indonesia perlu mewaspadai potensi kekeringan, terutama daerah-daerah yang sudah memasuki musim kemarau.

Dampak dan Antisipasi

Dengan kondisi kemarau yang lebih kering dan panjang, sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan. Petani di berbagai daerah, seperti di Gunungkidul, dilaporkan telah menjual ayam dan hasil panen untuk membeli air bersih. Pemerintah daerah pun diminta untuk menyiapkan langkah antisipasi, seperti modifikasi cuaca dan penyediaan bantuan air bersih.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. "Kami harap masyarakat bisa mengantisipasi dengan baik, terutama di wilayah yang sudah memasuki musim kemarau," pungkas Ardhasena.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga