ASEAN-Korsel Luncurkan Proyek Tekan Emisi Gas Metana di Indonesia
ASEAN-Korsel Luncurkan Proyek Tekan Emisi Gas Metana

Proyek pengurangan emisi gas metana tingkat regional resmi diluncurkan di Indonesia. Proyek mitigasi iklim di kawasan ASEAN ini bertajuk ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM). Peluncuran proyek strategis ini dihadiri langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Jumhur Hidayat, Duta Besar Republik Korea untuk ASEAN Lee Chul, Kepala Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia Rowan Fraser, serta Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN H.E. San Lwin di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, pada Kamis (21/5/2026).

Pentingnya Mitigasi Gas Metana

Menteri LH, Jumhur Hidayat, mengapresiasi kolaborasi erat antara negara-negara ASEAN dan Korea Selatan ini. Ia menegaskan bahwa mitigasi gas metana harus dilakukan secara serius karena memiliki dampak kerusakan lingkungan yang jauh lebih masif dibandingkan polutan lainnya.

"Ini bagus sekali karena ini merupakan usaha keras bersama, terutama di ASEAN dan sekarang ada di Indonesia, untuk mengurangi reduksi gas metan ini. Gas metan ini bisa merusak ozon 28 sampai 30-an kali lebih besar ketimbang karbon dioksida," kata Jumhur.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sumber Emisi Metana di Indonesia

Jumhur memaparkan, sumber utama emisi metana di Indonesia didominasi oleh tempat pembuangan sampah terbuka (open dumping) serta limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Sebagai solusinya, pemerintah mempercepat adopsi teknologi pengolahan sampah menjadi energi dan listrik di puluhan wilayah.

"Ada sekitar 34 daerah aglomerasi yang akan menggunakan waste to energy atau waste to electricity. Hal itu kira-kira mencakup sekitar 113 sampai 114 kota dan kabupaten di Indonesia," jelasnya.

Posisi Strategis Indonesia

Jumhur menambahkan, proyek ini murni berbasis investasi dan bisnis yang menjanjikan secara ekonomi. "Ini bisnis. Jadi orang berinvestasi karena dia bisa jualan listrik," imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Republik Korea untuk ASEAN, Lee Chul, menyatakan bahwa kerja sama lingkungan telah menjadi pilar terpenting dalam kemitraan strategis antara Korea Selatan dan ASEAN untuk menghadapi krisis iklim global. Lee Chul mengungkapkan, AKCMM menjadi proyek tunggal terbesar yang didanai oleh ASEAN-Korea Cooperation Fund (AKCF) dengan nilai anggaran fantastis mencapai puluhan juta dolar.

"Di antara proyek AKCF yang sedang berjalan, inisiatif AKCMM menonjol sebagai proyek tunggal terbesar yang didanai AKCF, dengan total anggaran sebesar US$20 juta (setara Rp320 miliar)," beber Lee Chul.

Ia menilai, pemilihan Indonesia sebagai tempat peluncuran proyek ini sangat tepat karena posisi strategis Indonesia sebagai motor penggerak utama dalam isu lingkungan di Asia Tenggara. "Upacara peluncuran hari ini di Indonesia sangat penting karena Indonesia merupakan aktor kunci dalam upaya kolektif ASEAN memerangi perubahan iklim," pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga