Pemudik Lansia Protes Harga Tiket Kapal di Ciwandan Hampir Dua Kali Lipat
Pemudik Lansia Protes Harga Tiket Kapal di Ciwandan

Pemudik Lansia Protes Harga Tiket Kapal di Ciwandan Hampir Dua Kali Lipat

Seorang pemudik lansia, Asrul (72), sempat memprotes petugas di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, karena harga tiket kapal yang dikenakan kepadanya hampir dua kali lipat dari harga resmi. Kejadian ini terjadi pada Minggu (16/3/2026) sekitar pukul 23.00 WIB, menambah daftar keluhan dalam arus mudik tahun ini.

Kisah Perjalanan Asrul dari Bekasi ke Padang

Asrul, yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat, berencana mudik ke Padang, Sumatera Barat. Awalnya, ia menuju Pelabuhan Merak, namun diarahkan ke Pelabuhan Ciwandan karena mengendarai sepeda motor. Saat tiba di loket tiket, ia tidak memiliki tiket online yang seharusnya dipersiapkan sebelumnya.

"Pas di pintu (loket tiket) ditanya 'Pak, HP bapak mana?'. 'Enggak punya' saya bilang. Dibantuin sama dia," kata Asrul, mengisahkan interaksinya dengan petugas.

Protes atas Selisih Harga yang Signifikan

Petugas kemudian meminta Asrul membayar biaya tiket sebesar Rp 80.000. Namun, ia merasa janggal karena nominal yang tercetak pada tiket hanya Rp 45.000. "Rp 80 ribu kata dia. Pas saya lihat (tiketnya) kok Rp 45 ribu, padahal dia petugas," ujarnya dengan nada kecewa.

Merasa dirugikan, Asrul pun mengajukan komplain kepada petugas lain di pelabuhan. Ia dibawa dan dipertemukan kembali dengan petugas tiket yang bersangkutan untuk menyelesaikan masalah ini.

Penyelesaian dan Implikasi bagi Pemudik

Akhirnya, selisih uang sebesar Rp 35.000 yang telah dikeluarkan Asrul dikembalikan kepadanya. Sementara itu, tiket yang sudah ia pegang tetap dinyatakan berlaku untuk perjalanannya. Insiden ini menyoroti pentingnya transparansi harga dan pelayanan yang adil bagi pemudik, terutama kelompok lansia yang mungkin lebih rentan terhadap praktik tidak fair.

Kejadian di Pelabuhan Ciwandan ini terjadi di tengah ramainya arus mudik, dengan ratusan ribu pemudik telah menyeberang ke Sumatera melalui berbagai pelabuhan di Banten. Pihak berwenang diharapkan dapat meningkatkan pengawasan untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.