Trump Buka Lahan Publik AS untuk Industri Energi, Ancam Taman Nasional
Dari lembah megah Grand Canyon hingga puncak granit Yosemite National Park serta hutan purba di Tongass National Forest, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji untuk membuat kawasan konservasi alam federal Amerika "indah kembali." Namun, di balik retorika puitis itu, kebijakannya justru membuka jalan bagi eksploitasi sumber daya skala besar.
Ancaman Pemotongan Anggaran dan Pelonggaran Regulasi
Taman nasional merupakan bagian dari lebih dari 243 juta hektare lahan publik di Amerika Serikat, yang mencakup hutan, gurun, perairan, dan suaka margasatwa. Jenny Rowland-Shea, yang memimpin kebijakan lahan publik di Center for American Progress, menyatakan bahwa kawasan ini termasuk yang memiliki kondisi ekologis paling utuh dan keanekaragaman hayati tertinggi di negara tersebut.
Namun, lanskap ini terancam oleh pemotongan anggaran besar dan pelonggaran kebijakan lingkungan. Pada Mei 2025, pemerintahan Trump mengusulkan pemotongan hampir 1 miliar dolar AS dari anggaran National Park Service. Pengurangan ini diperingatkan dapat memaksa ratusan lokasi ditutup atau mengurangi layanan secara drastis.
Bagi Jenny, pelemahan National Park Service dengan dalih efisiensi pemerintah justru membuat taman dan lahan publik menjadi kurang aman, kurang bersih, kurang mudah diakses, dan lebih padat dari sebelumnya.
Pergeseran Kebijakan ke Arah Eksploitasi
Dua bulan setelah mengumumkan pemotongan anggaran, Trump menandatangani perintah eksekutif yang ditujukan untuk "memperbaiki" taman nasional. Kebijakan tersebut menyoroti pembatasan penggunaan lahan yang disebut telah merampas akses para pemburu, pemancing, pendaki, dan pecinta alam.
Namun, dengan menggambarkan kebijakan konservasi sebagai hambatan, muncul kekhawatiran bahwa Trump sedang memberi sinyal pergeseran kebijakan yang lebih besar: membuka lebih banyak lahan federal untuk pertambangan, pengeboran, dan penebangan.
Popularitas Taman Nasional dan Penolakan Publik
Taman nasional tetap sangat populer, sering disebut sebagai "ide terbaik Amerika." Pada tahun 2024, taman-taman ini mencetak rekor dengan sekitar 332 juta pengunjung yang menghabiskan sekitar 29 miliar dolar AS di komunitas sekitar.
Sebuah survei oleh YouGov pada November 2025 menunjukkan bahwa mayoritas besar warga Amerika (69%) menolak usulan pemotongan anggaran National Park Service oleh pemerintahan Trump. Penolakan ini juga diperlihatkan di Senat pada Januari, ketika rancangan anggaran bipartisan menolak pemotongan tersebut.
Meski demikian, para pemerhati taman memperingatkan bahwa karena klausul yang menjamin taman nasional tetap sebagai lahan publik dihapus dari rancangan undang-undang, kawasan tersebut kini rentan terhadap potensi penjualan. Theresa Pierno, saat itu menjabat sebagai presiden National Parks Conservation Association, menegaskan bahwa melindungi taman nasional adalah isu lintas partai.
Ekspansi Pertambangan dan Penebangan
Lebih dari 40% dari total lahan publik di Amerika Serikat selama ini telah digunakan untuk ekstraksi minyak, gas, batu bara, dan mineral. Namun kini, Trump berfokus untuk "membebaskan" lebih banyak energi Amerika di lahan publik dengan mencabut regulasi yang disebutnya bermotif ideologis, termasuk aturan lingkungan dan iklim.
Ini juga mencakup usulan untuk mengakhiri Public Lands Rule 2024, kebijakan era Presiden Biden yang bertujuan menyeimbangkan eksploitasi sumber daya dengan konservasi. Jenny Rowland-Shea menyatakan bahwa tindakan Trump sebagian besar bertujuan melemahkan perlindungan, sehingga nilai lahan publik kini lebih ditentukan oleh potensi eksploitasi sumber daya.
Dengan alasan mengurangi ketergantungan pada luar negeri untuk mineral penting, pada Maret 2025 pemerintahan Trump memerintahkan peningkatan signifikan produksi mineral domestik di lahan federal. Area luas telah diidentifikasi untuk percepatan izin tambang mineral penting seperti tembaga, uranium, dan emas.
Pemerintah Trump juga membuka jutaan ekar lahan dan perairan publik untuk pengeboran minyak dan penambangan batu bara guna menjamin pasokan energi yang andal, sekaligus membatalkan aturan yang melarang penebangan dan pembangunan jalan.
Dampak pada Satwa Liar dan Perubahan Iklim
Kebijakan ini sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun 2017, saat Trump memulai masa jabatan pertamanya, pemerintah dengan cepat mencabut perlindungan atas jutaan hektare lahan publik dan membukanya untuk penebangan serta pertambangan.
Langkah tersebut mencakup kawasan monumen nasional seperti Bears Ears National Monument dan Grand Staircase-Escalante National Monument, meskipun kemudian dibatalkan oleh pemerintahan Biden. Dalam waktu kurang dari setahun, izin eksplorasi minyak dan gas di lahan publik bahkan meningkat tiga kali lipat.
Di masa jabatan kedua Trump, Stephen Nash, peneliti lingkungan dari University of Richmond, khawatir bahwa meskipun taman nasional ikonik kemungkinan tetap aman dari proyek ekstraksi besar, portofolio lahan publik yang jauh lebih luas, termasuk hutan nasional dan kawasan suaka margasatwa, akan mengalami degradasi serius.
Lahan publik lainnya justru lebih krusial sebagai habitat bagi satwa liar yang semakin menghilang. Ribuan spesies tumbuhan dan hewan akan bergantung pada kawasan ini saat bermigrasi akibat suhu ekstrem yang dipicu pemanasan global.
Para ilmuwan mencatat, misalnya, bahwa kembalinya bison Amerika yang sebelumnya terancam punah ke taman nasional seperti Yellowstone National Park membantu memulihkan ekosistem. Hingga baru-baru ini, taman-taman tersebut juga berperan dalam mengedukasi pengunjung tentang dampak gangguan iklim terhadap lingkungan alam.
Namun, sejalan dengan penghapusan kata "iklim" dari situs web pemerintah AS, pada Februari tahun ini, pemerintahan Trump memaksa staf layanan taman untuk menghapus atau menyensor pameran yang menyampaikan pengetahuan ilmiah tentang perubahan iklim.
Sebaliknya, pemerintah tetap berfokus pada menghilangkan hambatan terhadap pengelolaan hutan yang bertanggung jawab, atau yang oleh kalangan konservasionis seperti Stephen Nash disebut sebagai eksploitasi langsung. "Satu-satunya sumber daya alam yang mereka hargai adalah yang bisa mereka ambil dan jual," ujarnya.



