Menhut: Pengelolaan Taman Nasional Perlu Pendanaan Berkelanjutan untuk Kembangkan Ekowisata
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menekankan bahwa pengelolaan taman nasional di Indonesia memerlukan pendanaan yang berkelanjutan dan inovatif guna mendukung konservasi serta pengembangan ekowisata. Hal ini disampaikan dalam konteks pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional, yang diharapkan dapat mencari skema pembiayaan baru untuk memperkuat fungsi kawasan konservasi tersebut.
Satgas Dibentuk untuk Cari Skema Pendanaan Inovatif
Satgas ini dibentuk melalui Keputusan Presiden (Keppres) dan akan diketuai oleh Hashim Djoyohadikusumo, dengan wakil ketua Menhut Mari Elka Pangestu. Tujuannya adalah mencari pendanaan yang sustain, termasuk melibatkan sektor privat, agar taman nasional di Indonesia dapat menjadi berkelas dunia. "Komersialisasi tentu, tapi yang harus dicatat komersialisasinya tidak menjadi tourism yang bersifat masif," kata Raja Juli Antoni dalam keterangannya di Jakarta, seperti dilansir Antara, Jumat, 13 Maret 2026.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan pendekatan baru dalam pembiayaan dan pengelolaan agar taman nasional tidak hanya berfungsi sebagai pusat konservasi, tetapi juga dapat mendukung pengembangan ekowisata yang berkelanjutan. "Tapi yang harus menjadi tujuan utamanya adalah menjaga lingkungan hidup menjaga hutan, dengan tetap ada aspek komersialnya," tutur Raja Juli.
Proyek Percontohan dan Penekanan Konflik Manusia-Satwa
Sebagai tahap awal, pemerintah akan menyiapkan sejumlah proyek percontohan dalam pengelolaan taman nasional, salah satunya di kawasan Taman Nasional Way Kambas. Program ini juga ditujukan untuk menekan konflik antara manusia dan satwa, seperti gajah, yang kerap terjadi di sekitar kawasan taman nasional. Upaya ini meliputi pembangunan pagar atau kanal pembatas, serta pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat setempat.
Indonesia saat ini memiliki 57 taman nasional yang menjadi wilayah penting bagi konservasi keanekaragaman hayati. Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap konservasi satwa dan pengelolaan taman nasional dapat semakin kuat, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui pendekatan pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan.
Dukungan untuk Ekowisata Berbasis Keanekaragaman Hayati
Raja Juli Antoni juga meninjau pengelolaan kawasan konservasi serta pengembangan ekowisata berbasis keanekaragaman hayati di Taman Nasional Bantimurung, Sulawesi Selatan. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengintegrasikan aspek konservasi dengan pariwisata yang ramah lingkungan. Dengan pendanaan yang inovatif dan berkelanjutan, diharapkan taman nasional dapat menjadi destinasi ekowisata yang menarik tanpa mengorbankan kelestarian alam.
