Zikir dan Doa Kebangsaan Monas, 100 Ribu Jemaah Lintas Agama
Zikir dan Doa Kebangsaan Monas, 100 Ribu Jemaah Lintas Agama

Suasana khusyuk menyelimuti kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Sabtu malam, 1 Agustus 2026. Ribuan jemaah dari berbagai agama dan daerah memadati area tersebut untuk mengikuti Zikir dan Doa Kebangsaan, sebuah acara spiritual yang menandai pembukaan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Panitia mencatat lebih dari 100.000 jemaah hadir dalam malam yang penuh dengan lantunan doa dan harapan itu.

Kegiatan ini tidak hanya sekadar seremonial, melainkan menjadi wujud nyata kebersamaan bangsa dalam keberagaman. Di tengah perbedaan keyakinan, para peserta berdiri berdampingan memanjatkan doa untuk negeri, menunjukkan bahwa persatuan Indonesia tidak pernah luntur oleh sekat-sekat agama maupun budaya. Kehadiran jemaah lintas agama dari berbagai wilayah menambah keyakinan bahwa Indonesia memang bangsa yang kuat dalam keragaman.

Rangkaian Pembuka HUT ke-81 RI

Zikir dan Doa Kebangsaan merupakan agenda pertama dari serangkaian acara untuk memperingati kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus. Dengan mengusung semangat kebersamaan, acara ini dirancang untuk menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang diraih tidak lepas dari peran serta seluruh elemen masyarakat, termasuk kekuatan doa dan spiritualitas. Selain menjadi ajang syukur, acara ini juga menjadi media untuk memperkokoh kerukunan antarumat beragama.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seluruh hadirin berdiri dengan khidmat, menyanyikan setiap lirik dengan penuh semangat nasionalisme. Setelah itu, suasana semakin syahdu ketika Muhammad Zian Fahrezi, juara pertama Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional Al-Ameed ke-3 di Karbala, Irak, tahun 2026, membacakan ayat suci Al-Qur'an Surat Ar-Rahman ayat 1–14. Bacaan yang merdu itu disimak dengan hening oleh puluhan ribu pasang mata yang memadati Monas.

Pesan Penting Menteri Agama

Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan sambutan yang menyentuh dalam acara tersebut. Ia menyebut Zikir dan Doa Kebangsaan sebagai ikhtiar spiritual bangsa dalam mengisi kemerdekaan. Menurutnya, sebuah bangsa akan menjadi besar apabila dihuni oleh masyarakat yang memiliki kedalaman spiritual, akhlak mulia, dan semangat kerukunan. Ia juga menekankan pentingnya persatuan di tengah perbedaan, sebagaimana dicontohkan oleh para peserta yang hadir dari berbagai latar belakang.

“Dengan zikir kita menumbuhkan hati, dengan doa kita mengetuk langit, dan dengan kerja serta pengabdian kita membangun bumi. Sekitar 100 ribu peserta zikir dan doa malam ini datang dari berbagai wilayah, dari berbagai agama, bersama-sama berdoa untuk negeri,” ujar Nasaruddin dalam keterangannya. Pernyataan itu disambut dengan khidmat oleh hadirin yang hadir di area Monas.

Doa Enam Agama Dipersembahkan untuk Negeri

Puncak acara adalah doa kebangsaan yang dipimpin oleh enam tokoh agama, mewakili agama-agama yang diakui di Indonesia. Sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan, doa-doa tersebut dipanjatkan secara bergantian. Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty memulai dengan doa untuk umat Kristen Protestan, disusul oleh Romo Fransiskus Yance Sengga, S.Fil., Lic.Th. yang memimpin doa umat Katolik. Selanjutnya, doa umat Hindu dipimpin oleh Pinandita Gede Pastika, dan doa umat Buddha oleh Bhikkhu Bhadranatha Thera. Xs. Budi S. Tanuwibowo mewakili umat Konghucu, sementara H. Husni Ismail menutup rangkaian doa untuk umat Islam.

Meski menggunakan tata cara yang berbeda, seluruh doa tersebut mengandung pesan yang sama: permohonan agar Indonesia senantiasa diberikan kedamaian, persatuan, dan kekuatan untuk mewujudkan cita-cita nasional. Momen ini menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk bersama-sama membangun bangsa. Di atas panggung, enam pemuka agama berdiri sejajar, melambangkan harmoni dan toleransi yang dijunjung tinggi masyarakat Indonesia.

Selawat Kebangsaan dan Lantunan Doa Penutup

Setelah doa lintas agama, suasana berubah menjadi semarak namun tetap khusyuk dengan lantunan Selawat Kebangsaan yang dipimpin oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Ribuan jemaah yang memadati kawasan Monas melantunkan selawat bersama-sama, menciptakan euforia spiritual yang terasa menggetarkan. Momen ini menjadi salah satu bagian paling dinantikan oleh para hadirin.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Sebelum memasuki acara inti, panitia menggelar pembacaan Khatmil Quran yang dipimpin oleh Dr. KH. Rijal Ahmad Rangkuti. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Doa Khatmil Quran oleh Ustaz H. Muzakkir Abd Rahman, M.A. Rangkaian tersebut menambah kekhidmatan malam yang sudah dipenuhi dengan nuansa keagamaan dan kebangsaan sejak awal.

Momentum Kebersamaan Bangsa

Kehadiran para menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih beserta tokoh lintas agama dalam acara ini menegaskan dukungan penuh negara terhadap kegiatan yang memupuk kerukunan. Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia harus diisi dengan hal-hal yang positif, termasuk memperkuat tali persaudaraan antarumat beragama.

Melalui acara ini, diharapkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan yang selama ini menjadi identitas bangsa dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Dengan semangat yang sama, Indonesia diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman, karena persatuan adalah kunci utama menuju masa depan yang lebih baik. Malam itu, Monas menjadi saksi bagaimana 100.000 orang dari enam agama yang berbeda bersatu dalam satu doa untuk negeri tercinta.