Ramadhan 2026 Masuki 10 Hari Terakhir, Kapan Lebaran Menurut Pemerintah dan Ormas?
Ramadhan 2026 10 Hari Terakhir, Kapan Lebaran?

Ramadhan 2026 Masuki Fase 10 Hari Terakhir, Perkiraan Lebaran di Ujung Maret

Puasa Ramadhan 2026 kini telah memasuki fase 10 hari terakhir, menandai periode yang penuh ibadah dan persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Berdasarkan perhitungan kalender Hijriyah, Idul Fitri 1447 Hijriyah diperkirakan akan jatuh pada pekan ketiga bulan Maret 2026. Namun, penetapan tanggal 1 Syawal 1447 Hijriyah di Indonesia tidak selalu berlangsung secara serentak dan seragam di seluruh wilayah.

Potensi Perbedaan Penetapan 1 Syawal 1447 H

Ada kemungkinan perbedaan antara keputusan resmi pemerintah dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di tanah air, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Perbedaan ini muncul karena kedua ormas tersebut menggunakan metode penentuan awal bulan Hijriyah yang berbeda-beda dalam perhitungannya.

Muhammadiyah umumnya mengandalkan metode hisab atau perhitungan astronomis secara matematis untuk menentukan awal bulan, termasuk Syawal. Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) lebih sering menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan fisik bulan sabit (hilal) secara langsung di lapangan.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, biasanya melakukan sidang itsbat yang mempertimbangkan laporan dari berbagai pihak, termasuk hasil rukyat dan hisab, sebelum menetapkan tanggal resmi Lebaran. Proses ini seringkali menyebabkan variasi dalam pengumuman, terutama jika kondisi cuaca atau visibilitas hilal tidak mendukung.

Lantas, Kapan 1 Syawal 1447 H atau Lebaran 2026 Dimulai?

Pertanyaan ini menjadi sorotan utama umat Muslim Indonesia menjelang akhir Ramadhan. Meski perkiraan umum mengarah ke pekan ketiga Maret 2026, kepastian tanggalnya masih menunggu pengumuman resmi dari masing-masing pihak.

  • Pemerintah akan menggelar sidang itsbat mendekati waktu tersebut.
  • Muhammadiyah biasanya mengeluarkan keputusan lebih awal berdasarkan hisab.
  • NU menunggu hasil rukyat sebelum memutuskan.

Perbedaan ini bukan hal baru dalam sejarah penanggalan Islam di Indonesia, namun tetap menjadi perhatian untuk koordinasi libur nasional dan persiapan perayaan. Masyarakat diimbau untuk tetap mengikuti perkembangan informasi dari sumber-sumber terpercaya.