Perbedaan Jumlah Rakaat Salat Tarawih: 8 vs 20 Rakaat di Bulan Ramadhan
Perbedaan Rakaat Salat Tarawih: 8 vs 20 di Ramadhan

Perbedaan Jumlah Rakaat Salat Tarawih: 8 vs 20 Rakaat di Bulan Ramadhan

Pada bulan Ramadhan, perbedaan jumlah rakaat dalam pelaksanaan salat tarawih seringkali menjadi topik hangat di kalangan masyarakat, khususnya di Indonesia. Di satu sisi, terdapat kelompok yang melaksanakan salat tarawih sebanyak 8 rakaat ditambah dengan 3 rakaat salat witir, sehingga totalnya menjadi 11 rakaat. Sementara itu, di sisi lain, ada pula yang menjalankan salat tarawih dengan jumlah 20 rakaat, yang kemudian ditambah 3 rakaat witir, menjadikan total keseluruhan 23 rakaat.

Akar Historis Perbedaan Jumlah Rakaat

Perbedaan ini tidak muncul begitu saja, melainkan memiliki akar sejarah yang dalam dalam tradisi Islam. Praktik salat tarawih dengan 8 rakaat umumnya mengikuti riwayat dari Nabi Muhammad SAW, yang dalam beberapa hadis disebutkan melaksanakan tarawih tidak lebih dari 11 rakaat, termasuk witir. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa Nabi lebih memilih kualitas dan kekhusyukan dalam ibadah, sehingga jumlah rakaat yang tidak terlalu banyak dianggap lebih sesuai dengan sunnah.

Di sisi lain, pelaksanaan 20 rakaat berakar dari perkembangan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pada masanya, beliau mengumpulkan umat Islam untuk melaksanakan tarawih secara berjamaah dengan jumlah rakaat yang lebih banyak, yaitu 20 rakaat, sebagai upaya untuk memudahkan dan menyatukan masyarakat dalam ibadah. Praktik ini kemudian diikuti oleh banyak mazhab, seperti Mazhab Syafi'i, yang populer di Indonesia, sehingga menjadi tradisi yang kuat di berbagai daerah.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Bagaimana Umat Sebaiknya Menyikapi Perbedaan Ini?

Dalam menyikapi perbedaan jumlah rakaat salat tarawih, penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa kedua praktik tersebut memiliki dasar yang sah dalam ajaran Islam. Kedua versi ini bukanlah hal yang saling bertentangan, melainkan lebih mencerminkan keragaman dalam penerapan ibadah yang diizinkan oleh syariat.

Berikut adalah beberapa poin yang dapat dijadikan panduan:

  • Menghormati Perbedaan: Umat sebaiknya saling menghormati pilihan masing-masing dalam melaksanakan tarawih, tanpa merasa bahwa satu cara lebih benar daripada yang lain.
  • Mengutamakan Kekhusyukan: Apapun jumlah rakaatnya, yang terpenting adalah menjaga kekhusyukan dan keikhlasan dalam ibadah, karena itu adalah inti dari salat tarawih.
  • Mengikuti Tradisi Setempat: Di Indonesia, banyak masjid dan masyarakat yang telah memiliki tradisi tertentu, baik 8 atau 20 rakaat. Mengikuti tradisi setempat dapat membantu dalam menjaga keharmonisan sosial.
  • Mencari Pengetahuan: Umat dianjurkan untuk mempelajari lebih dalam tentang dasar-dasar hukum dari kedua praktik ini, sehingga dapat melaksanakan ibadah dengan pemahaman yang baik.

Dengan demikian, perbedaan jumlah rakaat salat tarawih seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan sebagai wujud kekayaan khazanah keislaman yang patut diapresiasi. Yang utama adalah niat tulus dalam beribadah dan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan suci Ramadhan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga