Ketua PBNU Minta Sejoli Viral Tidur Kelonan di Musala Kebumen Dibina, Bukan Dihukum
PBNU Minta Sejoli Tidur Kelonan di Musala Dibina, Bukan Dihukum

Ketua PBNU Soroti Kasus Sejoli Viral Tidur Kelonan di Musala Kebumen

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Fahrur Rozi, yang akrab disapa Gus Fahrur, menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa viral sepasang kekasih yang ketahuan tidur sambil berpelukan atau kelonan di musala Pantai Logending, Kebumen, Jawa Tengah. Menurutnya, kejadian ini bukan sekadar pelanggaran norma, tetapi menjadi alarm keras bahwa sebagian masyarakat mulai kehilangan rasa malu dan batas kepantasan dalam ruang publik.

Musala Bukan Tempat Bermesraan, Tetapi Ruang Sujud

Gus Fahrur menegaskan bahwa musala merupakan tempat sujud dan ibadah, bukan lokasi untuk istirahat bebas apalagi bermesraan. "Ketika kesucian ruang ibadah dilanggar secara terang-terangan, maka yang tercoreng bukan hanya tempatnya, tetapi juga wajah moral masyarakat secara keseluruhan," ujarnya dalam keterangan kepada wartawan pada Jumat (5/5/2026). Dia menambahkan bahwa insiden ini mencerminkan erosi nilai-nilai kesopanan yang perlu segera ditangani.

Pendekatan Pembinaan Diutamakan Daripada Hukuman

Meski menyayangkan tindakan sejoli tersebut, Gus Fahrur menekankan pentingnya memberikan pembinaan kepada para pelaku, terutama karena mereka masih berusia muda dan belum jelas memenuhi unsur pidana. "Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan sekaligus kasih sayang. Dalam banyak ajaran, menutup aib dan memberi ruang taubat lebih diutamakan daripada membuka aib dan mempermalukan," jelasnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dia berargumen bahwa pendekatan edukasi dan penyadaran seringkali lebih efektif dibandingkan sekadar penghukuman. "Pendekatan pembinaan, edukasi, dan penyadaran seringkali jauh lebih efektif dibandingkan sekadar penghukuman. Terlebih jika pelaku masih berusia muda, yang masih memiliki ruang untuk memperbaiki diri," imbuh Gus Fahrur. Menurutnya, memberikan kesempatan untuk menyadari kesalahan, meminta maaf, dan berubah adalah bentuk keadilan yang lebih manusiawi dan berorientasi pada perbaikan moral.

Kronologi Insiden Viral di Musala Pantai Logending

Peristiwa ini bermula dari video berdurasi 1 menit 5 detik yang diunggah di Instagram oleh akun @reset.feeds, menunjukkan sepasang laki-laki dan perempuan tidur sambil berpelukan di dalam musala. Tak lama kemudian, seorang warga menyiram mereka dengan seember air hingga mereka terkejut dan terbangun. Kapolsek Ayah, AKP Diyono, mengonfirmasi bahwa kejadian terjadi pada Rabu (1/4) siang di musala objek wisata Pantai Logending, Desa Ayah, Kecamatan Ayah.

Diyono menjelaskan bahwa terdapat tiga remaja yang terlibat: DS (18) dan LA (21) yang tertangkap sedang berpelukan, serta AA (21) yang tidur di samping mereka. Setelah digerebek warga, ketiganya diserahkan ke petugas Polairud Pantai Logending dan dilanjutkan ke Polsek Ayah untuk klarifikasi. Orang tua mereka juga dipanggil, dan masalah tersebut akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan oleh pihak berwenang tanpa proses hukum lebih lanjut.

Implikasi Sosial dan Upaya Pencegahan

Kasus ini menyoroti pentingnya pendidikan moral dan pemahaman agama di kalangan generasi muda. Gus Fahrur menyerukan agar masyarakat dan lembaga keagamaan bekerja sama dalam meningkatkan kualitas keimanan dan kesadaran akan norma-norma sosial. "Jika perbuatan tersebut tidak secara jelas memenuhi unsur pidana, maka pendekatan yang lebih utama adalah pembinaan dan peningkatan kualitas keimanan agar tidak terulang," tegasnya. Dia berharap insiden ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih menghormati tempat ibadah dan menjaga etika dalam ruang publik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga