Muhammadiyah Umumkan Jadwal Puasa Berbeda dengan Pemerintah
Organisasi Islam Muhammadiyah telah mengumumkan jadwal puasa Ramadan yang berbeda dari kalender resmi pemerintah. Perbedaan ini menimbulkan diskusi publik mengenai metode penentuan awal bulan dalam kalender Hijriyah.
Penjelasan Pakar Ilmu Falak dari UMM
Seorang pakar ilmu falak dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan penjelasan mendetail mengenai perbedaan tersebut. Menurutnya, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal dalam menetapkan awal Ramadan.
Metode ini didasarkan pada perhitungan astronomi yang ketat, dengan kriteria bahwa bulan baru (hilal) harus sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, meskipun tidak terlihat secara fisik. "Hisab wujudul hilal mengutamakan perhitungan matematis dan astronomi yang presisi," jelas pakar tersebut.
Perbandingan dengan Metode Rukyat
Pemerintah Indonesia, melalui sidang isbat, umumnya mengandalkan metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan fisik hilal. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari.
Perbedaan metode ini sering menyebabkan selisih satu hari dalam penentuan awal Ramadan. Pakar UMM menegaskan bahwa kedua metode memiliki dasar ilmiah dan keagamaan yang kuat, namun penerapannya berbeda.
- Metode Hisab Muhammadiyah: Menggunakan perhitungan astronomi tanpa syarat visibilitas hilal.
- Metode Rukyat Pemerintah: Mengutamakan pengamatan langsung hilal, dengan kriteria tertentu.
Dampak dan Rekomendasi bagi Umat
Perbedaan jadwal puasa ini dapat mempengaruhi pelaksanaan ibadah umat Muslim di Indonesia. Pakar ilmu falak UMM menyarankan agar umat menghormati perbedaan tersebut dan mengikuti keputusan organisasi atau lembaga yang mereka percayai.
"Yang terpenting adalah niat dan kekhusyukan dalam beribadah. Perbedaan ini seharusnya tidak mengurangi makna spiritual Ramadan," tambahnya. Dia juga mendorong edukasi publik yang lebih luas mengenai ilmu falak untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.
Dengan penjelasan ini, diharapkan umat Muslim dapat menjalankan puasa dengan tenang, meskipun terdapat variasi dalam kalender. Diskusi ilmiah seperti ini juga memperkaya khazanah keilmuan Islam di Indonesia.