Tarique Rahman Resmi Jadi Perdana Menteri Bangladesh, Hadapi Tantangan Berat
Tarique Rahman PM Baru Bangladesh, Hadapi Tantangan Berat

Tarique Rahman Resmi Dilantik Sebagai Perdana Menteri Baru Bangladesh

Setelah partainya meraih kemenangan meyakinkan dalam pemilihan parlemen, Tarique Rahman secara resmi dilantik sebagai perdana menteri baru Bangladesh. Pria berusia 60 tahun ini akan memimpin pemerintahan selama lima tahun ke depan, menggantikan pemerintahan sementara yang dipimpin oleh penerima Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus.

Proses Pelantikan dan Pengambilan Sumpah

Presiden Mohammed Shahabuddin memimpin langsung upacara pengambilan sumpah jabatan yang digelar di luar gedung parlemen. Dalam kesempatan tersebut, puluhan anggota kabinet dan pejabat pemerintahan baru juga turut dilantik. "Saya akan dengan setia menjalankan tugas sebagai Perdana Menteri pemerintahan sesuai dengan hukum," tegas Rahman dalam pidato pelantikannya.

Sebelum pelantikan, para anggota parlemen yang berjanji setia kepada Bangladesh telah dilantik oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum AMM Nasir Uddin. Anggota Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) kemudian memilih Rahman sebagai pemimpin mereka secara resmi.

Kemenangan Pemilu dan Komposisi Parlemen

Aliansi yang dipimpin BNP berhasil memenangkan 212 kursi dari total 350 kursi parlemen. Sementara itu, koalisi 11 partai yang dipimpin oleh partai Islam terbesar di negara itu, Jamaat-e-Islami, meraih 77 kursi dan akan berperan sebagai oposisi. "Kemenangan ini milik Bangladesh, milik demokrasi," ujar Rahman dalam pidato kemenangannya pada Sabtu (14/02). "Kemenangan ini milik rakyat yang bercita-cita dan telah berkorban demi demokrasi."

Pemilihan Umum di Bangladesh secara langsung memilih 300 anggota parlemen, sementara 50 kursi lainnya diperuntukkan bagi perempuan dan dibagikan secara proporsional.

Tantangan Berat yang Menanti Pemerintahan Baru

Tantangan awal terbesar yang harus dihadapi pemerintahan Rahman meliputi:

  • Memulihkan stabilitas politik setelah gejolak berkepanjangan
  • Membangun kembali kepercayaan investor asing dan domestik
  • Menghidupkan kembali industri-industri utama seperti sektor garmen
  • Memperbaiki kondisi ekonomi yang rapuh akibat rezim sebelumnya
  • Memperkuat lembaga konstitusional dan hukum yang melemah
  • Meningkatkan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat

"Kita akan memulai perjalanan dalam situasi ekonomi yang rapuh akibat rezim otoriter sebelumnya, lembaga konstitusional dan hukum yang melemah, serta kondisi keamanan dan ketertiban yang memburuk," ujar Rahman mengakui beratnya tantangan yang dihadapi.

Profil dan Latar Belakang Tarique Rahman

Rahman merupakan putra sulung mantan Perdana Menteri Khaleda Zia dan mantan Presiden Ziaur Rahman, yang juga merupakan pendiri BNP. Ayahnya, Ziaur Rahman, dibunuh selama kudeta militer pada tahun 1981. Ibunya, Khaleda Zia, memasuki dunia politik setelah kematian suaminya dan pertama kali memegang kekuasaan pada tahun 1991.

Rahman telah menjabat sebagai ketua sementara partai sejak ibunya dipenjara pada tahun 2018. Ia baru saja kembali ke Bangladesh pada bulan Desember setelah lebih dari 17 tahun dalam pengasingan sukarela menyusul protes massal pada tahun 2024 yang menggulingkan pemerintahan Sheikh Hasina.

Masa Pengasingan dan Kasus Hukum

Rahman pindah ke London pada tahun 2008 untuk perawatan medis dan tetap tinggal di sana sambil menghadapi beberapa kasus kriminal di negaranya. Ia pernah dihukum secara in absentia atas tuduhan yang termasuk kasus terkait dugaan rencana pembunuhan terhadap Sheikh Hasina.

Namun, putusan tersebut dibatalkan setelah Hasina digulingkan dari kekuasaan pada tahun 2024, sehingga menghilangkan hambatan hukum untuk kepulangannya ke Bangladesh.

Polarisasi Politik dan Posisi Oposisi

Rahman menyerukan agar semua pihak tetap bersatu di tengah polarisasi politik yang tajam selama bertahun-tahun. Saingan utamanya, Bangladesh Awami League yang dipimpin oleh Hasina, dilarang mengikuti pemilu. Dari pengasingannya di India, Hasina menyatakan pemilu tersebut tidak adil bagi partainya.

Pengadilan di Bangladesh telah menjatuhkan hukuman mati kepada Hasina atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait ratusan kematian dalam pemberontakan Generasi Z.

Pemimpin Jamaat, Shafiqur Rahman, 67 tahun, mengatakan partainya akan menjadi "oposisi yang waspada, berprinsip, dan damai" terhadap pemerintahan baru.

Kontroversi dan Tuduhan Masa Lalu

Karier politik Rahman tidak pernah lepas dari bayang-bayang kontroversi. Tuduhan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan terus membuntutinya. Kabel diplomatik Kedutaan Besar AS pada 2006 bahkan menyebutnya "mengilhami sedikit orang, tetapi membuat banyak pihak gelisah".

Kabel diplomatik lain melabelinya sebagai "simbol pemerintahan kleptokratis dan politik kekerasan", bahkan menudingnya "luar biasa korup". Ditangkap atas tuduhan korupsi pada 2007, Rahman mengaku mengalami penyiksaan dalam tahanan.

Semua dakwaan yang dihadapinya dibantah oleh Rahman, yang menyebutnya bermotif politik. Kepada AFP, ia juga menyampaikan permintaan maaf. "Jika ada kesalahan yang tidak diinginkan, kami meminta maaf," katanya.

Rahman mengakui tugas di depan mata "sangat besar": membangun kembali negeri yang, menurutnya, telah "dihancurkan" pemerintahan sebelumnya. Ia tumbuh di orbit politik sang ibu, Khaleda Zia, yang kemudian menjadi perdana menteri perempuan pertama di Bangladesh dan bergantian berkuasa dengan Hasina dalam duel panjang dan getir.

"Di daerah pemilihannya, saya sering datang dan berkampanye," ujar Rahman tentang awal mula keterlibatannya dalam politik. "Dari situlah, perlahan-lahan, saya mulai terlibat dalam politik."