98% Rumah Ibadah Terdampak Bencana Sumatera Sudah Beroperasi Kembali
Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengumumkan bahwa sebanyak 98% rumah ibadah yang terdampak bencana di wilayah Sumatera telah dapat kembali digunakan oleh masyarakat. Data ini disampaikan dalam rapat bersama Pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (18/2/2026).
Data Pemulihan Rumah Ibadah dan Lembaga Pendidikan
Menurut Nasaruddin, total rumah ibadah yang terdampak bencana di tiga provinsi mencapai 1.593 unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.558 unit atau 98% sudah beroperasi kembali. Sementara itu, masih tersisa 35 unit yang memerlukan perbaikan dengan estimasi dana sebesar Rp 17,5 miliar.
Selain rumah ibadah, bencana juga berdampak pada lembaga pendidikan keagamaan. Sebanyak 773 madrasah terdampak, dengan 651 unit atau 84% telah kembali beroperasi. Untuk madrasah yang belum berfungsi, yaitu 122 unit, dibutuhkan dana sekitar Rp 228 miliar.
Kemudian, untuk pondok pesantren, terdapat 1.173 unit yang terdampak. Sebanyak 883 unit atau 75% sudah dapat digunakan kembali, sedangkan 290 unit lainnya memerlukan dana perbaikan sebesar Rp 144,64 miliar.
Rincian Kerusakan dan Usulan Anggaran
Nasaruddin menjelaskan bahwa perhitungan kerusakan didasarkan pada kerusakan ruang esensial seperti ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, administrasi, dan ruang kepala madrasah. Di Aceh, misalnya, terdapat 471 madrasah terdampak dengan rincian kerusakan ringan, sedang, berat, dan relokasi. Sementara di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, jumlah madrasah terdampak masing-masing 263 dan 39 unit dengan variasi tingkat kerusakan.
Total anggaran yang diusulkan untuk pemulihan semua fasilitas ini mencapai Rp 702,92 miliar. Usulan ini telah diajukan kepada Menteri Sekretaris Negara, namun belum mendapatkan persetujuan resmi. Nasaruddin menekankan pentingnya dukungan dana untuk menyelesaikan pemulihan secara menyeluruh.
Dengan upaya ini, diharapkan seluruh rumah ibadah dan lembaga pendidikan di Sumatera dapat segera berfungsi normal, mendukung aktivitas keagamaan dan pendidikan masyarakat pasca bencana.



