50 Ribu Jemaah Umrah RI Masih di Arab Saudi, 14.115 Berpotensi Tertahan Akibat Konflik
50 Ribu Jemaah Umrah RI di Saudi, 14.115 Berpotensi Tertahan

50 Ribu Lebih Jemaah Umrah Indonesia Masih di Arab Saudi, Ribuan Berpotensi Tertahan

Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan, mengungkapkan fakta mencengangkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Senayan, Jakarta, pada Rabu (11/3/2026). Menurut data terbaru, masih terdapat lebih dari 50 ribu jemaah umrah asal Indonesia yang berada di Arab Saudi, dengan ribuan di antaranya berisiko tinggi mengalami keterlambatan pulang ke tanah air.

Dampak Langsung Konflik Timur Tengah pada Penerbangan

Gus Irfan menjelaskan bahwa situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran, telah memicu penutupan sejumlah ruang udara. "Beberapa negara di kawasan tersebut telah melakukan penutupan ruang udara, khususnya pada jalur penerbangan yang selama ini menjadi lintasan utama penerbangan internasional menuju kawasan teluk," paparnya secara rinci.

Penutupan tersebut tidak hanya mengganggu arus lalu lintas udara global, tetapi secara spesifik berdampak pada penerbangan dengan skema transit melalui wilayah Timur Tengah. Jemaah yang menggunakan penerbangan transit menjadi kelompok paling terdampak dalam situasi konflik ini, karena opsi perjalanan mereka menjadi sangat terbatas.

Data Rinci dan Potensi Keterlambatan

Berdasarkan data yang diterima Kementerian Haji dan Umrah per tanggal 11 Maret 2026, jumlah pasti jemaah umrah Indonesia yang masih berada di Arab Saudi mencapai 50.374 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 14.115 jemaah memiliki potensi tinggi untuk tertahan atau stranded akibat gangguan penerbangan.

Gus Irfan juga menyebutkan bahwa terdapat 1.239 Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang terlibat. "Kami sudah memanggil semua PPIU yang terkait dengan ini untuk melakukan koordinasi dan mencari solusi terbaik," tegasnya menegaskan langkah proaktif yang telah diambil pemerintah.

Kekhawatiran terhadap Pelaksanaan Ibadah Haji 2026

Lebih jauh, Menteri Gus Irfan menyampaikan kekhawatiran serius bahwa eskalasi konflik yang berlanjut dapat memengaruhi penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. Ibadah haji yang dijadwalkan mulai memasuki tahap keberangkatan jemaah pada 22 April 2026 berpotensi mengalami gangguan jika kondisi keamanan penerbangan tidak segera stabil.

"Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 Hijriah," ungkapnya dengan nada waspada. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, meskipun sebelumnya Komisi VIII DPR RI menyatakan keyakinan bahwa konflik Timur Tengah tidak akan mengganggu pelaksanaan haji.

Dengan adanya puluhan ribu jemaah yang masih berada di Arab Saudi dan ribuan yang berisiko tertahan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk maskapai penerbangan dan otoritas Saudi, untuk memastikan keselamatan dan kepulangan seluruh jemaah umrah Indonesia tepat waktu.