Menyelami Warisan Kuliner Turki di Velvet Cafe Balat, Sarapan Penuh Cerita
Sarapan Tradisional Turki di Velvet Cafe Balat, Warisan Keluarga

Menyelami Warisan Kuliner Turki di Velvet Cafe Balat, Sarapan Penuh Cerita

Jam menunjukkan pukul 08.00 waktu Istanbul. Jalan berbatu di Balat masih basah oleh sisa hujan malam hari. Rumah-rumah bergaya Ottoman dengan jendela oriel berdiri tanpa jarak. Fasad rumah-rumah cumba di Balat dicat warna-warni, seolah mengundang turis untuk membuka kamera dan berfoto. Banyak anak tangga yang dicat demikian, sementara bendera-bendera Turki berukuran kecil menggantung di atas kepala. Kucing-kucing berjalan santai di depan pintu rumah yang catnya mulai mengelupas.

Bangunan-bangunan di Balat layaknya desa kecil. Gang-gang berbatu yang naik turun memberikan kesan seperti berada di labirin yang penuh dengan harta karun. Di sepanjang jalan, pohon-pohon tua tanpa daun berdiri di antara bangunan. Cabangnya menjalar ke langit kelabu menambah kesan sunyi di musim dingin Istanbul. Mobil-mobil terparkir tanpa tergesa di sisi jalan, sementara dinding batu peninggalan kekaisaran Byzantium dibiarkan bertahan di tengah kehidupan kota modern.

Aroma kopi dari kafe-kafe kecil menyelinap di sela tembok tua. Pegawai kafe berjaket tebal memanggil para turis, menawarkan kopi dan hidangan tradisional Turki sebagai alasan untuk singgah. Butik desainer generasi ketiga berdampingan dengan taman teh tradisional dan toko-toko kerajinan. Balat juga penuh dengan toko barang bekas yang unik, pedagang barang antik, dan juru lelang. Balat tidak menyambut dengan kemegahan, melainkan dengan keintiman. Ketenangannya terasa kontras dengan Istanbul yang riuh, seolah menjadi pelarian yang sempurna bagi turis.

Sejarah Panjang di Balik Warna-Warni Balat

Warna-warna cerah yang menarik kamera turis hanya lah lapisan paling luar. Di baliknya, Balat meninggalkan jejak sebagai sejarah panjang. Berabad-abad lalu, kapal-kapal kecil merapat di Balat yang letaknya berada di tepian Tanduk Emas. Mereka membawa barang dagangan dari Laut Tengah. Pada masa Bizantium, kawasan ini berada dekat Istana Blachernae, pusat kekuasaan di ujung barat laut Konstantinopel. Balat secara historis dipercaya berasal dari kata palation atau istana.

Balat adalah distrik multikultural, area pemukiman campuran dari komunitas Yahudi, Yunani, dan Armenia. Komunitas yang bertahan di sini melewati periode Bizantium dan Ottoman. Di Balat, turis juga akan menemukan banyak bangunan bersejarah, mulai dari Sinagoge Ahrida, Sinagoge Yanbol, Küçük Mustafa Paşa Hamamı (Pemandian Turki), dan Gereja Sveti Stefan Bulgaria yang megah (Gereja Besi). Namun kini tak ada yang tersisa dari kemegahan itu, selain lapisan waktu yang menempel pada tembok-tembok batu tua. Meski begitu, warisan budayanya masih terasa di setiap sudut jalan Balat hari ini, termasuk dalam tradisi kuliner yang dijaga hingga sekarang.

Velvet Cafe: Menyuguhkan Sarapan Tradisional Keluarga Turki

Beberapa langkah dari tikungan jalan, sebuah kafe kecil dengan papan bundar bertuliskan 'Velvet Cafe' menyambut dengan pintu kayu berwarna cokelat tua. Kusen batunya tampak kasar dan tua. Di atas pintu, rangkaian bunga kering dan ornamen merah delima menggantung seperti memberikan salam. Ada jendela-jendela kecil di kanan kiri cafe. Dua meja kecil di depan kafe menunggu tamu, seakan memberikan ruang bercerita yang lebih panjang tentang Balat.

Bangunan di atasnya menjulang sederhana, dengan jendela-jendela lebar khas apartemen Istanbul abad ke-20. Sebuah bendera Turki tergantung di balkon paling atas, berkibar pelan pengingat bahwa di antara kafe vintage dan jalanan bertekstur sejarah, kota ini tetap bergerak sebagai kawasan modern. Memasuki bagian dalam kafe, suasana berubah hangat. Turis melepaskan jaket musim dingin mereka, menggantungkannya ke bangku-bangku kayu. Mereka disuguhkan interior vintage dengan lampu kuning yang temaram.

Taplak berenda mengalasi meja-meja tamu, perabot kayu, cangkir dan piring vintage hingga telepon putar zaman dulu dipajang rapi di meja-meja berkelir cokelat. Pemilik cafe juga memajang gaun pengantin berbahan sutra di dalam figura. Semua ornamen yang membawa nuansa dan pengalaman di dalam rumah keluarga Turki di masa lalu. Tiba-tiba seorang laki-laki datang menyapa dengan suara lembut. Sapannya membuyarkan lamunan dan obrolan kecil kami yang hanyut dalam estetika ruangan. Dia adalah Yuksel Kukul, sang pemilik kafe.

Kisah di Balik Pendirian Velvet Cafe

Jurnalis Liputan6.com dan Tim media AirAsia X mendapatkan kesempatan istimewa mencicipi sarapan dan brunch tradisional ala keluarga Turki. Yuksel mengawali sambutan dengan kisah mendirikan Velvet Cafe yang ternyata berkelindan dengan kenangan keluarga dan nostalgia masa kecil. "Alasan pertama kami membuka kafe ini adalah untuk mengenang nenek saya. Karena kami memiliki ikatan yang sangat baik dengan keluarga dan anggota keluarga," kata dia.

Yuksel menjalankan bisnis ini bersama saudari perempuannya bernama Begum Kocer sejak 2013. Keluarga lain seperti ibu dan bibi Yuksel ikut terlibat dari balik dapur demi menjaga keontetikan resep keluarga sampai ke meja para tamu. "Jadi seperti yang Anda lihat, ini bergaya vintage. Ini benar-benar rumah nenek. Itulah mengapa kami sangat senang menghidupkannya kembali dari masa lalu," tutur Yuksel. Semua hidangan yang disajikan melalui proses panjang. Bahan masakan didapat dari seluruh pelosok negeri, lalu diracik sendiri dengan resep sendiri. "Kami memasak semuanya di dapur kami sendiri dengan resep kami sendiri," ujar Yuksel.

Mencicipi Sarapan Ala Keluarga Turki

Di sela pembicaraan, Begum datang membawa nampan berisi keranjang roti dan piring-piring kecil. Di atasnya, beragam makanan khas Turki disajikan ke hadapan kami seperti:

  • Ekmek (Roti putih Turki)
  • Simit (Roti berbentuk cincin yang ditaburi wijen sekilas mirip bagel)
  • Roti bawang buatan sendiri

Tiga sumber karbohidrat ini lazim ditemukan di hampir semua menu sarapan Turki. Dalam paket menu sarapan ini, Begum juga menghidangkan 4 jenis keju:

  1. Beyaz Peyniri (keju putih)
  2. Kaşar Peyniri (Keju kuning)
  3. Tulum Peyniri (keju fermentasi)

Selain itu, tersedia 2 jenis zaitun: Siyah Zeytin (zaitun hitam) yang sedikit manis dan Yeşil Zeytin (zaitun hijau) lebih asam, olesan manis: bal (madu alami) dan beberapa selai buah (Reçel), pekmez: sirup anggur kental dan selai kacang. Di meja kami juga tersedia pelbagai olesan gurih dan pedas seperti:

  • Hummus: pasta kacang arab yang dihaluskan dengan tahini, lemon, dan bawang putih
  • Ezme: pasta pedas dari tomat, paprika, bawang, peterseli, dan mint
  • Tahini: pasta kental yang terbuat dari biji wijen panggang
  • Haydari: yogurt kental dicampur bawang putih dan daun dill

Yuksel dan Begum tak lupa menyiapkan beragam salad sayuran untuk menambah cita rasa segar seperti mentimun, tomat, paprika tumis, beberapa jenis acar, mentega bawang putih dan timi: rempah daun kering yang sangat populer dan menjadi bumbu dasar dalam masakan Turki. Untuk protein, dua jenis telur orak-arik (scrambled egg) dan beberapa potong sucuk: sosis pedas khas Turki juga tersaji di atas meja. Yuksel lantas memberitahu cara menyantap semua makanan khas Turki di atas meja tersebut sebelum mulai dicicipi.

Pengalaman Rasa yang Memikat Lidah

Kami memulainya dengan memotong ekmek dan simit menjadi potongan kecil, lalu dicelupkan ke beberapa olesan. Rasa manis dan segar terasa memanjakan lidah ketika potongan roti gandum itu dioles dengan pekmez, beberapa selai berbahan buah dan madu alami. Bila ingin rasa gurih sedikit pedas dan gurih, roti kami campurkan dengan ezme atau tahini. Kami juga mencoba memadukan roti tersebut dengan hummus yang memberikan lidah cita rasa yang kompleks: gurih, asam segar, dengan tekstur creamy.

Selanjutnya, perpaduan asin dan manis tersaji di lidah ketika potongan ekmek diberi beyaz peynir atau kaşar peyniri, lalu ditambah sedikit bal (madu). Keju yang asin menjadi lembut karena madu. Ini kombinasi yang sangat klasik di Turki. Kesan rasa berbeda juga terasa di lidah saat potongan sosis dicampur dengan pasta merah seperti acuka atau biber ezmesi. Rasa pedas, gurih, dan sedikit smoky begitu mengejutkan lidah tanpa aba-aba. Atau irisan sosis akan terasa kaya rempah bila ditambah taburan timi atau thyme di atasnya.

Penutup dengan Teh dan Cerita

Usai lidah terombang-ambing oleh semua hidangan tersebut, Yuksel dan Begum menyajikan kami teh khas Turki untuk menetralisir lidah. Teh dituangkan pada gelas-gelas kecil berbentuk tulip dengan uap yang mengepul tipis ke udara. Yuksel ingin para tamu membawa sedikit rasa yang tertinggal di lidah, namun lebih banyak cerita di dalam kepala. "Kami ingin membawa cerita dan keramahan ini ke luar untuk berbagi dengan para tamu kami," ujar pria berdarah Sudan ini.

Segelas latte menjadi pilihan tepat untuk menutup perjamuan. Kami lantas duduk di dua bangku kayu depan Velvet Cafe. Di tengah cuaca dingin 8 derajat celcius, kami saling bertukar nilai rasa hidangan keluarga Yuksel dan Balat yang tak pernah kehabisan kisah. Perjalanan Liputan6.com ke Velvet Cafe, Balat dan tempat-tempat wisata Turki ini didukung oleh AirAsia X dan Badan Pariwisata Turki (TGA).

Dikutip dari website airasia.com, Airasia kini melayani penerbangan langsung dari Kuala Lumpur (KUL) ke ke Bandara Internasional Sabiha Gökçen, Istanbul (SAW). Hal ini menandai langkah penting lainnya dalam perluasan jaringan global AAX. Layanan ini hadir mulai 14-17 November 2025 lalu dengan frekuensi empat kali seminggu menggunakan Airbus A330-300. Jadwal penerbangan Kuala Lumpur-Istanbul ini tersedia pada hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu. Penerbangan ini menawarkan opsi Fly-Thru dari berbagai destinasi lain di Asia Tenggara ke Istanbul. Penerbangan langsung ini memperkuat konektivitas antara Asia dan Eropa dengan biaya terjangkau.

Terobosan ini menandai masuknya AAX yang telah lama diantisipasi ke Eropa, membuka gerbang penting yang menghubungkan Asia Tenggara ke Eropa melalui salah satu destinasi paling kaya sejarah dan unik secara geografis di dunia. Terletak di dua benua yang dipisahkan oleh Selat Bosphorus, Istanbul menawarkan kesempatan langka bagi wisatawan untuk merasakan keindahan dua dunia sekaligus. Seluruh tiket penerbangan AirAsia dapat dipesan melalui aplikasi airasia MOVE (dahulu airasia Superapp), website airasia.com, online travel agent, dan agen perjalan resmi lainnya. Untuk pemesanan tiket rombongan berjumlah 10 orang atau lebih, calon penumpang dapat menghubungi layanan Group Desk AirAsia melalui email ke groupbooking_id@airasia.com.