Ecoprint: Sulap Daun Kering Jadi Karya Seni Bernilai Ekonomi
Ecoprint: Sulap Daun Kering Jadi Karya Seni Ekonomi

Sore itu, di sudut rumah Desi Priyani (45) di Blambangan, Banjarnegara, Jawa Tengah, terlihat tumpukan daun kering berwarna kecokelatan yang kehilangan pigmen alaminya. Sekilas, dedaunan itu tampak seperti sampah yang siap dibuang. Namun, bagi Desi, lembaran-lembaran tersebut masih memiliki nilai guna.

Kreativitas Mengubah Limbah

Beberapa hari sebelumnya, daun-daun kering itu menjadi bahan utama dalam proses pembuatan kain ecoprint di rumah produksinya, Ramban Godong Handmade Ecoprint. Desi memanfaatkan teknik ecoprint untuk memindahkan warna dan motif alami dari daun ke kain, menciptakan karya seni yang unik dan bernilai ekonomi.

Menurut Desi, ecoprint adalah teknik pewarnaan kain ramah lingkungan yang menggunakan bahan-bahan alami. Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan daun dan bunga segar, lalu meletakkannya di atas kain yang sudah dimordant. Setelah itu, kain digulung dan dikukus agar pigmen alami menempel sempurna. Hasilnya, setiap lembar kain memiliki motif yang berbeda, tergantung jenis tanaman yang digunakan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dari Hobi Jadi Bisnis

Awalnya, ecoprint hanya hobi Desi. Namun, karena banyak peminat, ia mengembangkannya menjadi usaha rumahan. Kini, produknya dijual secara online dan di pameran kerajinan. Harga satu kain ecoprint berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 200.000, tergantung ukuran dan kerumitan motif.

Desi berharap, usahanya dapat menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli lingkungan dan memanfaatkan potensi lokal. "Limbah dedaunan bisa jadi berkah jika kita kreatif mengolahnya," ujarnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga