Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap nilai, transparansi, dan integritas merek, konsep halal kini berkembang melampaui sekadar sertifikasi produk. Halal semakin dipandang sebagai fondasi kepercayaan dan arah strategis bisnis yang dijalankan secara menyeluruh.
Peluncuran Buku Authentic Halal Brand
Perspektif ini menjadi sorotan dalam peluncuran buku Authentic Halal Brand: Dilengkapi Studi Kasus Merek yang Mengusung Nilai-nilai Halal yang diterbitkan oleh IHATEC Publisher. Buku yang ditulis oleh Dr. Wahyu T. Setyobudi, Ikhsan Fauzi Munawir, Evrin Lutfika, dan Anang Ghozali ini mengulas bagaimana merek dapat membangun identitas halal yang autentik, bukan sekadar tampak halal di permukaan, tetapi menjadikan nilai halal sebagai bagian hidup dari budaya, strategi, hingga pengalaman konsumen.
Wardah dan Kahf sebagai Contoh Authentic Halal Brand
Dalam buku tersebut, dua merek dari ParagonCorp, Wardah dan Kahf, mendapat perhatian sebagai contoh merek yang dinilai berhasil mengimplementasikan konsep Authentic Halal Brand secara menyeluruh. Keduanya ditempatkan pada tingkat maturitas tertinggi, yakni Level 4 Authentic Halal Brand, karena dinilai mampu menghadirkan nilai halal secara konsisten dalam proses bisnis, komunikasi merek, hingga kontribusi sosial yang berkelanjutan.
Founder & CEO Inspark Indonesia sekaligus penggagas konsep Authentic Halal Brand, Dr. Wahyu T. Setyobudi, menjelaskan bahwa di tengah berkembangnya industri halal, merek dituntut tidak hanya memenuhi aspek kepatuhan, tetapi juga mampu menghadirkan nilai halal secara konsisten dalam identitas, budaya, dan pengalaman konsumen.
"Authentic Halal Brand tumbuh dari kepedulian nyata sebuah merek untuk menjadikan nilai halal bukan sekadar atribut, melainkan value yang menyatu, menghidupkan arah bisnis, budaya, inovasi, hingga makna yang dirasakan konsumen," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).
Wardah: Mengubah Persepsi Halal di Industri Kecantikan
Wardah dalam buku ini disebut sebagai salah satu merek yang berhasil mengubah persepsi halal di industri kecantikan Indonesia. Sejak awal kehadirannya, Wardah tidak hanya memposisikan halal sebagai atribut produk, tetapi sebagai nilai yang mendorong keberanian, keberdayaan, dan relevansi yang inklusif lintas generasi.
Senior Group Head Wardah Masterbrand & Skincare Paragon Technology and Innovation untuk Wardah, Novia Sukmawaty, menjelaskan bahwa bagi Wardah, halal merupakan komitmen untuk menghadirkan kebaikan yang dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
"Bagi Wardah, halal bukan hanya tentang apa yang boleh digunakan, tetapi tentang bagaimana sebuah merek dapat menghadirkan rasa aman, percaya, dan kebermanfaatan secara konsisten. Kami percaya halal harus hidup dalam kualitas produk, proses bisnis, hingga kontribusi yang kami hadirkan bagi masyarakat," ujar Novia.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut turut mendorong Wardah untuk terus menghadirkan inovasi berbasis sains, komunikasi yang bertanggung jawab, serta berbagai inisiatif sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kahf: Nilai Halal untuk Pria Modern
Sementara itu, Kahf dipandang sebagai contoh bagaimana nilai halal dapat diterjemahkan secara kontekstual dan relevan bagi generasi pria modern. Dalam buku tersebut, Kahf diperkenalkan sebagai companion brand yang hadir menemani perjalanan konsumen menjadi versi diri yang lebih baik, tanpa pendekatan yang menggurui.
Group Head of Brand Development PC & Innovation untuk Kahf, Andrie Kurniarahman, mengatakan bahwa pendekatan tersebut lahir dari pemahaman bahwa konsumen saat ini membutuhkan merek yang mampu hadir secara autentik dan relevan dengan perjalanan hidup mereka.
"Bagi Kahf, halal bukan hanya menjadi fondasi produk, tetapi nilai yang diterjemahkan secara relevan dalam kehidupan pria modern. Karena itu, Kahf ingin tumbuh bersama konsumen dengan membangun ekosistem positif bersama komunitas dan partner yang memiliki semangat sejalan, serta hadir sebagai pendamping dalam perjalanan mereka menjadi versi diri yang lebih baik," jelas Andrie.
Studi Kasus Lintas Industri
Selain membahas Wardah dan Kahf, buku Authentic Halal Brand juga menghadirkan berbagai studi kasus lintas industri, mulai dari makanan, logistik, hingga hospitality, untuk menunjukkan bahwa nilai halal dapat menjadi fondasi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Melalui peluncuran buku ini, IHATEC berharap semakin banyak pelaku industri melihat halal bukan sekadar standar kepatuhan, tetapi sebagai kerangka nilai yang mampu membangun kepercayaan, loyalitas, dan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.



