Waka MPR Dorong Pelestarian Lengger untuk Perkuat Identitas Kebangsaan
Waka MPR Dorong Pelestarian Lengger untuk Kebangsaan

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat (Rerie), menegaskan bahwa pelestarian kesenian Lengger Banyumas bukan sekadar menjaga warisan budaya, melainkan bagian strategis dalam memperkuat karakter dan kesadaran kebangsaan generasi penerus. Hal ini disampaikan Rerie dalam acara penyerapan aspirasi masyarakat bertema Penguatan Demokrasi Substansi dan Etika Berbangsa di Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (15/6/2026).

Lengger sebagai Infrastruktur Moral Demokrasi

Menurut Rerie, budaya merupakan infrastruktur moral demokrasi. Demokrasi tidak akan kokoh tanpa akar budaya yang kuat. Ia mengingatkan bahwa demokrasi seringkali dipersempit menjadi sekadar kontestasi politik, pemilu, atau urusan kekuasaan. Padahal, demokrasi membutuhkan fondasi yang lebih dalam, yaitu warga yang saling menghormati, menghargai perbedaan, dan memiliki rasa cinta terhadap budaya serta bangsanya.

Legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu mengutip Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan negara wajib memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. Rerie menekankan bahwa budaya bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan jiwa, nafas, dan bagian tak terpisahkan dari pembangunan nasional.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Apresiasi untuk Seniman Banyumas

Rerie mengapresiasi para seniman dan budayawan Banyumas yang konsisten mengangkat dan melestarikan Lengger, termasuk menumbuhkan kembali filosofi di balik tarian tersebut. Ia juga mendorong agar Lengger bisa diajukan menjadi warisan budaya dunia, setelah pada 2019 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional. "Pengakuan negara itu penting karena bukan sekadar catatan administratif, tetapi bentuk bahwa Lengger betul-betul menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa ini," ujarnya.

Tantangan Hilangnya Ingatan Budaya

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah hilangnya seni atau pertunjukan, melainkan hilangnya ingatan dan keterhubungan antara generasi muda dengan budayanya sendiri. "Generasi muda tidak boleh kehilangan keterhubungan dengan budayanya. Karena dengan kehilangan hubungan dengan budaya, bangsa itu akan kehilangan memorinya," tegas Rerie.

Ia menekankan bahwa pelestarian budaya tidak boleh dibebankan hanya kepada komunitas budaya dan kalangan seniman, melainkan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat. "Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akar kuat dan mampu membawa warisan budayanya tetap hidup di tengah perubahan zaman," pungkas Rerie.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono; Wakil Ketua Komisi XII, Sugeng Suparwoto; Pembina Lengger Bicara, Andy Flores Noya; serta para pegiat seni dan masyarakat di Banyumas.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga