Kawasan Blok M di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kini tidak lagi didominasi oleh mobilitas terminal. Kehadiran Taman Literasi Martha Christina Tiahahu telah mengubah wajah kawasan tersebut menjadi salah satu titik kumpul favorit bagi anak muda atau Gen Z di ibu kota.
Sejarah dan Transformasi Taman Literasi
Terletak di Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, taman ini memiliki sejarah panjang. Dilansir dari Multikultura Jurnal Lintas Budaya, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu merupakan tempat wisata yang telah berdiri sejak masa pemerintahan Gubernur Militer Jakarta Daan Jahja pada tahun 1948. Dengan luas sekitar 9.710 meter persegi, taman ini kini menyediakan berbagai fasilitas penunjang modern, mulai dari perpustakaan mini, amfiteater, taman bermain anak, toilet, mushola, hingga beragam pilihan kuliner. Kelengkapan fasilitas tersebut menjadikan Taman Literasi sebagai destinasi wisata utama anak muda, terutama pada akhir pekan serta waktu sore hingga malam hari.
Fenomena 'Dikit-dikit ke Blok M'
Nasya (21), seorang mahasiswi jurnalistik yang kerap berkunjung ke Taman Literasi, mengakui bahwa Blok M seolah menjadi magnet dan pusat kegiatan warga Jakarta seusianya. "Sekarang tuh orang-orang malah lebih seringnya ke Blok M. Sampai orang-orang bilangnya ini negara Blok M kan, dan apa-apa dikit-dikit Blok M. Kayak main ke Blok M, terus nge-date ke Blok M, bahkan ngonten pun ke Blok M gitu," kata Nasya di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jakarta Selatan, Rabu (20/5). "Jadi kalau misalnya kita datang ke sini weekend itu tuh rame banget kan, sampai parkiran tuh penuh gitu. Jadi kalau ke sini ya orang-orang kalau ngelihat pandangan ke sini pasti udah beda dari pada yang dulu," imbuhnya.
Ruang terbuka hijau ini juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas seperti membaca buku, mengerjakan tugas kuliah, hingga bekerja. Adi (23), seorang fresh graduate yang juga berprofesi sebagai content creator, rutin membuat konten fotografi jalanan di sini. "Biasanya kalau main seringnya ke Blok M, daerah sekitar sini buat sambil ngonten sih, fotoin orang random. Jadi misalkan aku lihat ada orang nih yang style-nya cukup menarik, itu biasanya aku samperin terus aku ajakin buat foto," ujar Adi. Ia mengibaratkan Blok M seperti surga bagi Gen Z untuk berkumpul.
Ramah di Kantong
Selain fasilitas dan tempat yang bagus, faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa Taman Literasi Martha Christina Tiahahu begitu diminati oleh Gen Z. Jika hanya sekadar duduk di taman, tentu tidak perlu mengeluarkan biaya. Namun menurut Adi, jika ingin nongkrong di kafe untuk ngopi, harganya cukup mahal. "Jadi buat kamu yang 'mendang-mending', sangat pas duduk di taman terbuka seperti ini tanpa mengeluarkan biaya."
Hal senada juga diungkapkan oleh Nasya. Kebebasan aturan dalam membawa makanan dari luar dinilai sangat membantu menjaga pengeluaran selama berkumpul. "Jadi enggak harus terpaku sama harga yang ada di kafe-kafe di sekitar. Karena kan kadang kalau di kafe itu kita terpaku sama harga yang udah ada dan itu kadang lebih mahal daripada yang kita pengin. Jadi bebasnya itu enaknya," kata Nasya.
Akses Mudah dan Lokasi Strategis
Faktor kenyamanan ini diperkuat dengan kemudahan akses transportasi umum. Taman Literasi Martha Christina Tiahahu terletak di titik temu karena berada di lokasi transit dan alih moda transportasi Blok M - Sisingamangaraja, melalui halte Integrasi Centrale Stichting Wederoupbouw (CSW), terminal Blok M, dan stasiun MRT Jakarta. Hal ini memudahkan pengunjung dari berbagai penjuru kota untuk datang.
Sejarah Peresmian dan Makna Nama
Taman Literasi Martha Christina Tiahahu dicanangkan pada era Gubernur Anies Rasyid Baswedan pada 2021. Proyek pembangunan tersebut kemudian dikelola oleh PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) hingga akhirnya diresmikan kembali pada 18 September 2022. Saat meresmikan, Anies mengatakan bahwa hadirnya taman literasi ini menegaskan bahwa Jakarta bukan hanya sekedar pusat pemerintahan maupun perekonomian semata. "Tapi Jakarta juga menjadi salah satu pusat literasi Indonesia. Dan, bahkan Jakarta sudah masuk di dalam UNESCO yang menggambarkan Jakarta bagian dari gambaran dunia," kata Anies.
Sejak diresmikan, taman ini seolah menjadi arena berkumpul baru bagi muda-mudi Jakarta. Keberadaannya lantas viral dan terus menjadi pilihan sampai sekarang, melengkapi apa yang sudah ada di 'Negara' Blok M. Taman ini menggunakan nama pahlawan nasional wanita asal Maluku, Martha Christina Tiahahu. Turut berjuang bersama Pattimura, Christina turun ke medan tempur sejak usia belia, yakni 17 tahun. Dilansir dari Jakarta Smart City, nama Martha Christina Tiahahu disematkan pada taman ini bukan saja menggambarkan kelembutannya sebagai seorang perempuan, tapi juga semangat serta keberaniannya dalam berjuang melawan penjajah untuk kemerdekaan tanah air.



