Menjejak Langit Oran di Benteng Santa Cruz, Tempat Sejarah dan Doa Bertemu
Menjejak Langit Oran di Benteng Santa Cruz

Angin Mediterania menyapu pelan saat perjalanan menuju Benteng Santa Cruz (Fort of Santa Cruz) di Oran, Aljazair, dimulai. Di puncak Gunung Murdjadjo, setinggi 400 meter di atas permukaan laut, berdiri megah Benteng Santa Cruz dan Kapel Santa Cruz. detikcom berkesempatan mengunjungi langsung Santa Cruz bersama puluhan jurnalis dari beberapa negara lain pada Sabtu (16/5/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan 25th International Tourism and Travel Fair atau Salon International du Tourisme et des Voyages (SITEV).

Perjalanan Menuju Puncak Sejarah

Perjalanan ke Benteng Santa Cruz tidak memakan waktu lama. Sekitar satu jam 30 menit ditempuh menggunakan bus dari pusat Kota Oran yang terletak di pesisir barat laut Aljazair. Kota ini merupakan kota terbesar kedua di Aljazair yang dikenal dengan julukan 'The Radiant' atau kota yang berkilau. Arsitektur di kota ini memadukan warisan sejarah berlapis dari berbagai masa kolonisasi, mulai dari Spanyol, Ottoman, hingga Prancis.

Sebelum menuju Benteng Santa Cruz, detikcom diajak berkeliling terlebih dahulu di Kota Oran untuk mengenal lebih dalam kota ini. Berdiri Place du 1er Novembre, yang merupakan alun-alun sekaligus jantung kehidupan Kota Oran. Dahulu, tempat ini dikenal dengan nama Place d'Armes. Kawasan ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah berarsitektur kolonial Prancis abad ke-19. Perjalanan menyusuri sudut Kota Oran mengundang decak kagum karena perpaduan arsitektur yang ada.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Santa Cruz: Tempat Sejarah dan Doa Bertemu

Perjalanan menuju Benteng Santa Cruz dimulai pada pukul 16.00 waktu setempat. Jalanan meliuk, pemandangan pesisir laut Mediterania dan lereng bukit menghiasi perjalanan bak lukisan. Benteng ini dibangun oleh bangsa Spanyol antara tahun 1563 dan 1636 setelah mereka berhasil merebut kota pelabuhan strategis Oran dari Kesultanan Ziyyanid. Awalnya, benteng ini dirancang sebagai pertahanan militer utama untuk melindungi Teluk Oran dari serangan bajak laut dan kekaisaran saingan.

Sepanjang sejarahnya, benteng ini menjadi saksi pertempuran sengit. Sempat direbut kembali oleh Ottoman pada tahun 1708, dibangun ulang oleh Spanyol pada tahun 1738, hingga akhirnya dikuasai oleh Prancis ketika mereka menjajah Aljazair pada tahun 1831.

Kapel Santa Cruz: Simbol Toleransi

Di bagian bawah bangunan benteng, terdapat sebuah tempat suci bernama Kapel Santa Cruz (Notre-Dame de Santa Cruz). Di menara kapel, terdapat patung Perawan Maria berukuran besar yang menghadap ke kota, menjadikannya simbol toleransi dan sejarah religi di Oran. "Perlu diketahui juga bahwa posisi kapel ini berhadapan langsung dengan Our Lady of Laga yang ada di Marseille, Prancis, sementara arsitektur bangunannya sendiri mirip dengan kapel yang berada di Lyon," kata pemandu menjelaskan.

Kapel ini dibangun oleh Prancis pada tahun 1850 setelah kota Oran dilanda wabah kolera yang parah pada tahun 1849. Masyarakat zaman dahulu membawa patung Perawan Maria ke atas gunung, mereka berdoa memohon kesembuhan dan ketika wabah mereda. "Masyarakat berdoa di hadapan patung tersebut agar wabah kolera segera berakhir. Konon, setelah mereka berdoa, hujan turun selama berminggu-minggu dan membersihkan seisi kota," ujarnya.

Simbol Keharmonisan Masa Kini

Saat ini, Santa Cruz berdiri sebagai monumen nasional Aljazair dan simbol keharmonisan. Meski berakar pada arsitektur militer Spanyol dan spiritualitas Katolik Prancis, situs ini dirawat dengan penuh hormat oleh pemerintah dan masyarakat Muslim Aljazair. Santa Cruz bukan lagi penanda penjajahan wilayah, melainkan simbol yang merangkul semua orang, tempat sejarah, iman, dan alam hidup berdampingan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga