Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri secara resmi membuka pameran seni rupa bertajuk 'Mata Hati Soekarno' yang digelar di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta, pada Sabtu, 6 Juni 2026. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 125 tahun kelahiran Proklamator RI, Soekarno, dan menghadirkan karya dari 47 perupa lintas generasi yang berupaya mengenang, menafsirkan, serta merefleksikan sejarah dan pemikiran Bung Karno melalui berbagai medium seni rupa.
Kehadiran Tokoh Nasional
Dalam acara pembukaan, Megawati duduk berdampingan dengan Permaisuri Karaton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas. Di belakang mereka, turut hadir seniman senior asal Yogyakarta sekaligus penanggung jawab acara, Butet Kartaredjasa. Sejumlah tokoh nasional dan daerah juga memeriahkan acara, antara lain Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Mahfud MD, Ganjar Pranowo, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih.
Prosesi Pembukaan Pameran
Pembukaan pameran ditandai dengan momen ketika Megawati mengajak GKR Hemas untuk membuka pintu kaca tempat pameran, kemudian keduanya berkeliling ruang pameran yang menampilkan hasil karya 47 perupa. Saat memasuki ruangan, Megawati terlihat menggandeng tangan GKR Hemas. Sebelum itu, Butet Kartaredjasa menyampaikan kepada Megawati mengenai gagasan dasar pameran tersebut.
“Ini adalah kesadaran kami para seniman untuk menghormati seniman juga yang kebetulan seorang Presiden pertama Indonesia, Proklamator, ideolog, penggali Pancasila, yang selalu menginspirasi kami, menginspirasi kita dari waktu ke waktu,” ujar Butet. Ia menambahkan, “Jadi kalau ada ungkapan dari Bung Karno itu 'jangan hanya mewarisi abunya, maka kami ingin mewarisi apinya'. Api Soekarno itulah yang menanamkan kesadaran ideologis kami sebagai warga bangsa yang selalu kami usung ke depan.”
Figur Bung Karno dalam Seni Rupa
Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menjelaskan bahwa panitia menantang para perupa untuk menggali, menemukan, memilih sudut pandang, cara pandang, dan cara ungkap dalam melihat, memahami, serta meresepsi sosok paling ikonik dalam sejarah Indonesia, yaitu Bung Karno. Ia mengakui bahwa mengolah dan mewujudkan tema 'Mata Hati Soekarno' tidaklah mudah, karena sebagian besar perupa berasal dari generasi 1990-an. Melalui lukisan, karya grafis, dan gambar, mereka berupaya membaca kembali perjalanan hidup, gagasan, serta jejak kebangsaan yang diwariskan Bung Karno kepada bangsa Indonesia.
Menurut Suwarno, Bung Karno merupakan figur yang tidak pernah habis untuk dibaca dan dimaknai ulang. “Bung Karno adalah air, tanah, angin, dan api menghidupi, menumbuhkan, menebarkan, dan menyalakan harapan dari waktu ke waktu sampai hari ini. Lebih dari setengah abad sepeninggal Bung Karno, ia adalah inspirasi yang tak pernah redup,” lanjutnya.
Dialog Publik tentang Relevansi Pemikiran Bung Karno
Pameran ini tidak sekadar menghadirkan karya seni, tetapi juga membuka ruang dialog publik mengenai relevansi pemikiran dan nilai-nilai yang diwariskan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut. “Merayakan Bung Karno dengan seni lukis sungguh bukan kebetulan. Ini perayaan yang tepat, karena teman-teman di berbagai belahan negara mengenal Indonesia, mengenal Bung Karno dari dekat, salah satunya adalah dari lima jilid buku yang diinisiasi beliau, yang diterbitkan dan belum pernah ada tandingannya sampai hari ini,” kata Suwarno.
Pameran 'Mata Hati Soekarno' menjadi salah satu rangkaian kegiatan peringatan 125 tahun kelahiran Bung Karno yang digelar di Yogyakarta, memperkuat pesan bahwa sosok dan pemikiran Bung Karno tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini.



