Makam Kucing di Senayan, Bukti Ketulusan Pecinta Hewan di Tengah Kota
Di sudut taman Jalan Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terdapat pemandangan sederhana namun penuh makna: deretan gundukan tanah kecil yang ternyata adalah makam kucing. Bagi sebagian warga, tempat ini menyimpan kisah tak biasa tentang kepedulian terhadap hewan yang dikelola dengan ketulusan hati. Sosok di balik perawatan makam tersebut adalah Teguh, seorang pria yang dikenal sebagai penyayang kucing dan dipanggil akrab dengan sebutan "Mas" atau "Abah" oleh lingkungan sekitarnya.
Dedikasi Teguh dalam Merawat Kucing Hidup dan Mati
Teguh, yang bekerja di sebuah rumah kos dekat taman, tidak hanya memperhatikan kucing-kucing yang masih hidup. Ia rutin memberi makan hewan-hewan itu pagi dan malam hari, menunjukkan komitmennya yang mendalam. Perhatiannya berlanjut bahkan setelah kucing-kucing tersebut mati, dengan merawat makam mereka di sudut taman itu. Tidak ada catatan pasti kapan makam ini mulai ada; beberapa warga menyebutnya sudah puluhan tahun, sementara yang lain memperkirakan baru setengah tahun. Namun, yang jelas, Teguh secara konsisten merapikan dan meninggikan gundukan tanah setiap beberapa hari sekali, terutama setelah hujan, agar makam tetap terlihat.
Ayub (21), rekan kerja Teguh, sering diminta membantu dalam pekerjaan ini. Ia mengakui bahwa merawat makam bukanlah tugas mudah, terutama jika dilakukan sendirian. "Seminggu dua kali ditinggikan, biar kelihatan. Ini karena hujan jadi nggak kelihatan. Kadang disuruh bantu ninggiin, karena kalau beliau sendiri dan tanahnya keras, susah," ujar Ayub. Dulu, makam ini bahkan dilengkapi dengan papan penanda, tetapi sekarang sudah tidak diperbolehkan lagi.
Makam yang Penuh dan Dukungan dari Warga Sekitar
Seiring waktu, ruang di taman itu semakin terbatas. Gundukan-gundukan kecil kini hampir memenuhi seluruh area yang tersedia, dan menurut Ayub, makam tersebut sudah tidak bisa menerima "penghuni" baru. "Makam sudah penuh, sudah nggak nerima dan jarang juga yang kirim kesini. Terakhir terima sih minggu lalu," tambahnya. Meski demikian, keberadaan makam ini tidak mengganggu warga. Justru, banyak yang melihatnya sebagai hal unik di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta.
Supandi (66), salah satu warga, mengenang kepedulian Teguh yang tak setengah-setengah. "Mas Teguh mah nggak tanggung-tanggung ngasih makannya. Pakai makanan kucing yang basah, sampai ke pelet-pelet yang kering itu. Kalau ada yang sakit juga langsung dibawa ke sana, diurusin," kata Supandi. Nanang Qosim (49), pedagang roti di Jalan Senayan, menegaskan bahwa makam ini tidak menimbulkan masalah bagi aktivitas sehari-hari. "Padahal mah kenapa nggak boleh ya? nggak ganggu aktivitas sama sekali, malah unik kalau kata saya mah, soalnya jarang," ucap Nanang.
Di balik kesederhanaannya, makam kucing di Senayan ini menjadi simbol kepedulian yang tulus. Ia mengingatkan bahwa bahkan makhluk kecil yang sering terabaikan pun layak diperhatikan dan dikenang. Kisah Teguh dan dedikasinya menyentuh hati banyak orang, menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang terhadap hewan masih hidup di tengah kehidupan urban yang sibuk.



