Kombes Tri Suhartanto: Polisi Pelestari Budaya yang Kelola 5 Museum dan 18 Sanggar Tari
Kombes Tri: Polisi Kelola 5 Museum & 18 Sanggar Tari

Kombes Tri Suhartanto: Polisi yang Hadir Melalui Seni dan Budaya

Kombes Polisi Tri Suhartanto, seorang Analis Kebijakan Staf Utama bidang Operasi Polri, telah menjadi sosok unik dalam dunia kepolisian. Tidak hanya bertugas menjaga keamanan, ia juga dikenal sebagai pelestari budaya pascakemerdekaan Indonesia. Dengan dedikasi yang tinggi, ia aktif mengelola lima museum swasta dan 18 sanggar tari yang memberdayakan anak-anak putus sekolah hingga anak jalanan.

Diusulkan untuk Hoegeng Awards Kategori Inovatif

Sosok Kombes Tri diusulkan sebagai kandidat Hoegeng Awards kategori inovatif oleh Denny Yusuf, seorang pembaca detikcom. Denny menilai komitmen Kombes Tri pada gagasan 'polisi hadir melalui seni budaya' patut diapresiasi. "Saya kenal Pak Tri mulai saya usia muda. Tapi kita mulai aktif melestarikan budaya itu sekitar tahun 2010-2011," kata Denny. Saat itu, Kombes Tri menjabat sebagai Wakapolres Kota Mojokerto dan terlibat dalam gerakan sosial seperti bakti sosial keliling desa dengan menghadirkan hiburan wayang potehi dan wayang kulit.

Meskipun Kombes Tri kemudian pindah tugas, komunikasi dengan Denny dan kakaknya tetap terjalin. Pada tahun 2015, inisiatif bersama melahirkan Museum Gubuk Wayang di Mojokerto, dengan Kombes Tri sebagai Penasihat. Museum ini diresmikan oleh almarhum Pak Raden, pencipta Si Unyil, dan menyimpan 90% koleksinya. "Dari situlah kami merasa sayang, benda-benda itu kan jati diri bangsa kita," ujar Denny, menanggapi kekhawatiran atas penghancuran artefak budaya karena anggapan negatif.

Ekspansi Museum dan Fokus pada Budaya Pascakemerdekaan

Keseriusan Kombes Tri dalam melestarikan budaya diwujudkan dengan pendirian museum lainnya:

  • Museum Ganesya di Malang pada 2019.
  • Museum Srimulat di Batu pada 2024.
  • Dua museum rencana April mendatang: Museum Dolanan Bocah dan Museum Cipta Mahardika di Mojokerto.

Kombes Tri menekankan bahwa museum-museum ini bertemakan kemerdekaan dan Indonesia-sentris, sebagai bentuk nasionalisme. "Saya tidak mau museum berbau kolonial, seolah-olah Bumiputera nomor dua," tegasnya. Ia juga menampung keris dari empu di Sumenep, Madura, untuk diabadikan bagi generasi mendatang.

Memberdayakan Anak Muda melalui Sanggar Tari

Selain museum, Kombes Tri turun langsung ke 18 sanggar tari yang dikelola, seperti Barongsai, Liong, dan Ramayana. Anggota sanggar kebanyakan anak putus sekolah, punk, dan anak jalanan. "Kami yakin kegiatan kebudayaan dapat menjadi media penyaluran energi anak-anak muda," kata Denny. Dari awalnya 30 anak, kini hampir 190 anak terlibat, dengan banyak yang memperoleh penghasilan dari seni.

Kombes Tri sering menyelipkan edukasi kamtibmas dalam kegiatan, menanamkan pola pikir bahwa seni budaya bisa menjadi keterampilan berpenghasilan. "Energi mereka disalurkan ke seni agar menjadi sumber penghasilan," jelas Denny. Berkat ini, sanggar tari kerap diundang ke acara dalam dan luar negeri.

Strategi Pendekatan Budaya dan Penggunaan Seragam

Kombes Tri selalu mengenakan seragam polisi dalam setiap kegiatan budaya, meski bukan tugas dinas. "Dia ingin menunjukkan masih ada polisi yang peduli dan tidak semua polisi buruk," cerita Denny. Prinsipnya, polisi harus mendekatkan diri ke masyarakat melalui interaksi yang terus-menerus.

Berasal dari hobi masa muda menonton wayang dan ludruk, Kombes Tri memilih pendekatan budaya karena interaksinya luwes. "Budaya itu media komunikasi yang tidak kaku," ujarnya. Inspirasinya muncul saat melihat artefak dihancurkan untuk bahan bangunan selama bakti sosial, mendorongnya menyelamatkan benda-benda bersejarah.

Sumber Dana dan Kolaborasi untuk Keberlanjutan

Pengelolaan museum didanai dari tiket masuk Rp 25.000 per orang dan corporate social responsibility (CSR). Kekurangan biaya diatasi dengan kerja sama stakeholders. Contoh inovatif adalah penggunaan limbah sak semen untuk wayang kulit, yang mendapat CSR dari perusahaan semen. "Kita tidak bisa bekerja sendiri, butuh dukungan pemerintah dan stakeholders," kata Kombes Tri.

Dampak dan Pengakuan Luas

Museum dan sanggar tari kini dikenal luas, bahkan menarik minat mahasiswa dan turis asing. Museum Gubuk Wayang menjadi rujukan studi mahasiswa Unair, sementara pertunjukan wayang potehi dan tari Ramayana diundang ke India, Thailand, dan Singapura. Kombes Tri percaya budaya menyatukan bangsa dan memperbaiki citra polisi. "Pendekatan melalui budaya itu luwes, tidak kaku," pungkasnya, menegaskan komitmennya sebagai polisi pelestari budaya.