Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, menyatakan dukungannya terhadap penyusunan kajian akademik untuk Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake. Kajian ini dinilai krusial untuk mengubah cara pandang masyarakat dari yang sebelumnya bersifat mistis menjadi pemahaman sejarah yang lebih ilmiah.
Pentingnya Kajian Akademik
Pernyataan tersebut disampaikan Dedi Mulyadi dalam Diskusi Kecagarbudayaan bertajuk 'Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake' yang digelar di Museum Pajajaran Bogor, Kamis (14/5). Ia menegaskan bahwa Prasasti Batutulis harus memiliki buku akademik yang memberikan kajian komprehensif, mulai dari tanggal pembuatan, bahan, pembuat, hingga arti tulisannya. Hal yang sama juga berlaku untuk Mahkota Binokasih.
Menurut KDM, Kota Bogor memiliki posisi penting sebagai pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran yang dibuktikan dengan keberadaan Prasasti Batutulis. Oleh karena itu, sejarah tersebut perlu dijelaskan secara menyeluruh agar tidak menimbulkan tafsir yang keliru.
Manfaat Naskah Akademik
Ia menambahkan bahwa naskah akademik tersebut nantinya bisa menjadi dasar dalam penyusunan berbagai kebijakan, mulai dari tata ruang, tata bangunan, hingga tata kelola pendidikan dan kesehatan di Jawa Barat. Dengan demikian, ada kesinambungan antara sejarah masa lalu dan arah pembangunan masa depan.
KDM juga menegaskan bahwa Prasasti Batutulis bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan bukti kejayaan Kerajaan Sunda di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.
Penjelasan Ahli Epigrafi
Dalam sesi diskusi, Ahli Epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan bahwa prasasti tersebut dibuat atas perintah Raja Surawisesa untuk mengenang jasa pendahulunya, Prabu Siliwangi (1482-1521), yang dianggap berjasa dalam penataan Kota Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota Kerajaan Sunda. Namun, seiring berjalannya waktu, jejak kejayaan Kerajaan Sunda tidak banyak lagi terlihat secara fisik akibat pengaruh kuat kerajaan-kerajaan Islam di sebagian besar Pulau Jawa.
Meski demikian, terdapat satu artefak yang dinilai masih merepresentasikan kemegahan Kerajaan Sunda, yakni Mahkota Binokasih yang kini disimpan secara turun-temurun di Keraton Sumedang Larang.
Sejarah Mahkota Binokasih
Berdasarkan naskah kuno Carita Parahyangan, mahkota tersebut dibuat di Kerajaan Galuh sebagai simbol kekuasaan dan legitimasi raja-raja Sunda. Setelah runtuhnya Kerajaan Sunda, Mahkota Binokasih kemudian diserahkan oleh empat utusan Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang.
Ahli Arkeometalurgi BRIN, Harry Octavianus Sofian, yang turut hadir dalam diskusi, menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih memiliki keterkaitan erat dengan kosmologi masyarakat Sunda, yakni Kosmologi Tritangtu. Konsep tersebut membagi kehidupan ke dalam tiga unsur: hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam.
Harry juga memaparkan bahwa Mahkota Binokasih dirancang dengan tiga unsur simbolik yang merepresentasikan peran dalam Kerajaan Sunda, yakni Rama, Ratu/Prabu, dan Resi. Rama melambangkan pemimpin spiritual yang menjaga nilai adat, agama, dan kebijaksanaan, digambarkan pada bagian atas mahkota berbentuk stupa dengan ornamen bunga teratai.
Sementara bagian tengah (ratu/prabu) melambangkan kepemimpinan dalam pengambilan keputusan dan penyusunan aturan, dengan ornamen daun segitiga serta Garuda Mungkur yang bermakna perlindungan dan keberanian seorang pemimpin. Adapun bagian bawah (resi) merepresentasikan kaum intelektual dan penasihat yang memberikan ilmu serta pertimbangan dalam kehidupan kerajaan.
Harry juga menyebut bahwa resi merujuk pada ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati, tokoh penting Kerajaan Sunda-Galuh abad ke-14 yang dikenal sebagai pemimpin bijaksana dan penguat nilai spiritual serta budaya masyarakat.
Penyimpanan dan Napak Tilas
Melihat nilai sejarahnya yang besar, Mahkota Binokasih selama ini disimpan dengan sangat hati-hati oleh Keraton Sumedang Larang. Namun, dalam rangka Milangkala Tatar Sunda, mahkota tersebut sempat dibawa ke sejumlah daerah sebagai bagian dari napak tilas Pajajaran, sekaligus menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengenal lebih dalam sejarah Kerajaan Sunda.



