Wakil Ketua DPD Bidang Otonomi Daerah, Politik, dan Hukum, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, membuka kegiatan National Leadership Camp 2026 yang diselenggarakan di Vokasi Universitas Indonesia (UI), Depok. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya bagi generasi muda untuk tidak melupakan identitas budaya bangsa di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan globalisasi.
Pesan untuk Generasi Muda
GKR Hemas menyebut generasi muda memiliki kekuatan fisik dan kemampuan berpikir yang luar biasa untuk menghadapi masa depan. Namun, ia mengingatkan agar mereka tetap menjaga budaya bangsa sebagai jati diri dan menjunjung tinggi adat kesopanan. "Jangan meninggalkan budaya bangsa sendiri. Ini paling penting, supaya di dalam pengenalan dirinya sendiri terhadap bangsa lain, itu menjadi sesuatu yang sangat relevan untuk sampai kapan pun," ujarnya pada Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini tidaklah ringan dibandingkan generasi sebelumnya. "Tantangan dunia semakin maju, tentu tantangannya akan semakin besar dan semakin luas," jelas GKR Hemas. Ia mencontohkan perubahan teknologi yang sudah mulai terasa, seperti berkurangnya pekerjaan yang menggunakan tenaga manusia akibat kemajuan mesin. "Pengaruh global itu banyak sekali dan ini sekarang, dalam hitungan detik kita bisa berkomunikasi dengan dunia luar sejauh apapun. Antisipasi anak muda sekarang harus lebih ditekankan. Selain ditekankan untuk terus maju mengikuti zamannya, tetapi harus tetap memegang teguh budayanya sendiri," terangnya.
Pentingnya Integritas dan Moral
GKR Hemas juga mengungkapkan bahwa generasi muda saat ini kemungkinan besar akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia di masa depan. Ia yakin setiap generasi muda memiliki cita-cita tinggi, namun harus tetap mengedepankan integritas, kejujuran, dan moral. "Kita berharap semua anak muda harus punya cita-cita setinggi apa pun, yang penting dia punya integritas, kejujuran, dan dia punya moral yang baik," ungkapnya.
Mengenai perubahan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), GKR Hemas mengakui bahwa AI merupakan bagian dari dampak globalisasi. Menurutnya, keberadaan AI saat ini baru permulaan, dan dalam beberapa tahun ke depan akan muncul teknologi baru yang berkaitan dengan AI. "Mungkin dua sampai tiga tahun lagi ada sesuatu yang baru yang berkaitan dengan AI, harus diwaspadai. Ya, kalau kita sendiri enggak kuat, itu sebetulnya dengan rekayasa yang macam-macam itu yang akan mempengaruhi anak-anak muda kita sekarang ini," tuturnya.
Dampak Media Sosial
GKR Hemas menyoroti perkembangan media sosial yang tidak terkontrol dan dapat mempengaruhi generasi muda. Ia merasa prihatin karena budaya bangsa Indonesia mulai terkikis akibat penggunaan media sosial yang kurang bijak. "Ini yang sebagai saya memprihatinkan, sangat memprihatinkan. Tidak ada lagi rasa hormat," tuturnya.
Ia mencontohkan, dalam bertutur bahasa Inggris saat bertemu dengan orang yang lebih dewasa, tidak ada lagi penggunaan bahasa santun. Hal ini berbeda dengan budaya Indonesia yang mengedepankan sopan santun. "Nah, kalau kita ketemu orang, ya kan? dia selalu mengatakan, 'Hallo, everybody' dia tahu bahwa yang dia 'Hallo, everybody' hallo bapak, hallo ibu, Hallo eyang, Hallo nenek, kakek, itu sudah nggak ada lagi, Everybody. Sangat menyedihkan untuk itu," pungkas GKR Hemas.
Kegiatan National Leadership Camp 2026 ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk memperkuat karakter dan kepemimpinan, tanpa meninggalkan akar budaya bangsa.



