Kidung by RWD Berpartisipasi dalam ArtMoments Jakarta 2026
KOMPAS.com – Ruang seni independen sekaligus manajemen seniman asal Yogyakarta, Kidung by RWD, turut ambil bagian dalam ArtMoments Jakarta 2026. Dalam pameran bergengsi ini, Kidung by RWD mempersembahkan karya dari enam seniman progresif yang secara kreatif merespons tema kuratorial yang diusung, yaitu "Offerings".
Mengajak Kolektor dan Penikmat Seni
Presentasi Kidung by RWD di ArtMoments Jakarta 2026 dirancang untuk mengajak para kolektor dan penikmat seni menyelami karya-karya yang lahir dari riset mendalam, persilangan lintas disiplin ilmu, serta penguasaan teknis yang mumpuni dari para senimannya. Keenam seniman yang ditampilkan adalah R Wisnu D, Digie Sigit, Rajoso Bayu Wicaksono, Hani Santana, Bofags, dan Tune Tone Toon.
Karya R Wisnu D: Arsitektur Psikologis
Wisnu, yang dikenal sebagai seniman konseptual beraliran impresionis, menghadirkan karya yang membangun arsitektur psikologis melalui kedalaman emosi, memori, dan permainan cahaya. Karya-karyanya berangkat dari penjelajahan langsung ke berbagai museum terkemuka di Asia, Amerika, dan Eropa. Dari pengalaman tersebut, ia memadukan ketajaman teknik seni rupa Eropa klasik dengan kearifan filosofi visual Nusantara.
Digie Sigit: Street Art dan Kritik Sosial
Sementara itu, Digie Sigit membawa pendekatan street art ke dalam ruang galeri. Ia menggunakan teknik stensil dengan karakter kontras tinggi sebagai medium komunikasi, solidaritas, sekaligus kritik sosial. Karya Sigit merekam energi perlawanan akar rumput dan menghadirkannya sebagai artefak visual yang responsif terhadap isu keadilan sosial.
Rajoso Bayu Wicaksono: Dekonstruksi Realitas Visual
Dari medium fotografi dan mixed media, Rajoso menghadirkan karya yang mendekonstruksi realitas visual. Ia menimpa permukaan karya fotografinya dengan cat akrilik melalui teknik overpaint. Dari proses tersebut, Rajoso melahirkan alter ego bernama Seriboyo. Sosok ini menjadi pintu masuk bagi eksplorasi estetis yang membongkar gagasan tentang kebenaran visual dan menghadirkan distorsi realitas.
Hani Santana: Harmoni dalam Kanvas Impasto
Seniman lain yang turut tampil adalah Hani Santana. Berangkat dari pengalaman bermusik, Hani menerjemahkan harmoni dan ritme ke dalam kanvas bertekstur impasto. Dengan filosofi "berkolaborasi dengan alam semesta", karya Hani menghadirkan fragmen energi yang ditangkap dan dibekukan di atas kanvas.
Bofags: Bahasa Visual Eksentrik
Bofags, seniman kontemporer dengan latar belakang Teknik Mesin dan skena musik underground, menawarkan bahasa visual yang eksentrik. Karya-karyanya tampak eksperimental, tetapi menyimpan narasi yang memuat kritik sosial terhadap ironi masyarakat urban modern.
Tune Tone Toon: Anonimitas sebagai Sikap Artistik
Adapun Tune Tone Toon menghadirkan pendekatan pop art dengan memilih anonimitas sebagai sikap artistik. Pilihan tersebut menjadi respons terhadap pasar seni yang kerap menempatkan figur seniman sebagai pusat perhatian.



