Fenomena 'Mawar Vidi' di TPU Tanah Kusir: Mawar Biru Jadi Tren Baru Peziarah
Ayah dari penyanyi Vidi Aldiano, Harry Kiss, baru-baru ini mengungkap fenomena unik yang muncul di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Para penjual bunga di sekitar area pemakaman tersebut kini mengenalkan istilah baru, yaitu "Mawar Vidi", untuk menyebut mawar biru yang banyak dicari oleh para peziarah.
Unggahan Instagram Harry Kiss Ungkap Tren Baru
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Harry Kiss menceritakan pengalaman langsungnya saat berkunjung ke TPU Tanah Kusir. Dalam unggahan tersebut, ia menyebut bahwa para penjual bunga dengan lantang menawarkan mawar biru dengan sebutan yang baru. "Sini Bu, ada Mawar Vidi, saya jual Mawar Vidi", tulis Harry, mengutip kalimat yang sering diucapkan oleh para pedagang.
Fenomena ini menarik perhatian karena menunjukkan bagaimana budaya populer, dalam hal ini nama seorang selebriti seperti Vidi Aldiano, dapat memengaruhi praktik sehari-hari di tempat-tempat umum. Mawar biru sendiri telah lama menjadi pilihan populer untuk diletakkan di makam, tetapi dengan penambahan istilah "Mawar Vidi", penjualan bunga tersebut tampaknya semakin meningkat.
Dampak pada Aktivitas Peziarah dan Penjualan Bunga
Para peziarah yang datang ke TPU Tanah Kusir kini semakin familiar dengan istilah baru ini. Banyak yang tertarik untuk membeli mawar biru dengan sebutan "Mawar Vidi" karena dianggap lebih personal dan terkait dengan figur publik yang dikenal luas. Hal ini tidak hanya meningkatkan penjualan bunga di area tersebut, tetapi juga menciptakan dinamika sosial yang unik di lingkungan pemakaman.
Harry Kiss, dalam ungkapannya, tampak terkesan dengan kreativitas para penjual bunga. Ia menyebut bahwa fenomena ini merupakan contoh bagaimana masyarakat dapat beradaptasi dan menciptakan inovasi dalam bisnis sehari-hari, meskipun di tempat yang serius seperti pemakaman.
TPU Tanah Kusir sendiri merupakan salah satu tempat pemakaman umum terbesar di Jakarta, yang sering dikunjungi oleh ribuan peziarah setiap harinya. Dengan adanya tren "Mawar Vidi", aktivitas di area tersebut menjadi lebih hidup dan penuh warna, meskipun tetap dalam konteks penghormatan kepada yang telah meninggal.



