Komunitas Muda Itu Kita menyelenggarakan diskusi publik bertajuk 'Eco-Luxury Jakarta: Menyusun Ulang Standar Estetika Kota yang Bersih dan Ramah Lingkungan'. Diskusi ini digelar sebagai respons atas ancaman ekologis yang semakin nyata di ibu kota.
Ancaman Ekologis Jakarta
Eksploitasi air tanah yang menyebabkan permukaan tanah Jakarta turun setiap tahunnya serta tingginya konsumsi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) menjadi dua persoalan besar yang mengancam keberlanjutan Jakarta.
Kegiatan yang diadakan pada Selasa (16/6) lalu ini mempertemukan puluhan peserta dari komunitas difabel, NGO, pegiat lingkungan, pegiat perkotaan, akademisi, dan generasi muda untuk membahas tantangan ekologis Jakarta. Selain itu, diskusi ini juga mendorong aksi nyata transisi ke air perpipaan serta penggunaan tumbler sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.
Pembicara dan Pandangan
Diskusi ini menghadirkan beberapa figur seperti konten kreator Fariz Egia Gamal yang fokus pada isu perkotaan, inisiator Platform Melihat Kota Rizzah Aulifia, dan Edufluencer Aland Dinda Pradana.
Gamal mengatakan, persoalan krusial yang dihadapi Jakarta saat ini adalah penurunan muka tanah hingga 15 cm setiap tahunnya. Menurutnya, hal ini terjadi bukan karena air laut naik, melainkan amblasnya tanah akibat eksploitasi air tanah menggunakan sumur bor.
Pemerintah sudah memiliki aturan tahun 2021 yang mengatur bangunan dengan luas lantai 5.000 meter persegi atau lebih tidak boleh menggunakan air tanah. Kebijakan ini adalah bagian dari sistem untuk mencegah Jakarta dari prediksi potensi tenggelam tahun 2050.
"Ini aturan untuk bangunan komersil seperti apartemen. Kalau rumah tangga ngebor antara 20-40 meter, sedangkan kalau komersil bisa ngebor air tanah sampai 60-100 meter. Kalau air tanah kita ditambang terus menerus, makin ambles. Dan ini yang bikin kita tenggelam," ujar Gamal dalam keterangan tertulis, Kamis (18/6/2026).
Gamal menambahkan, masyarakat harus mulai beralih dari air tanah ke air perpipaan, salah satunya melalui berlangganan Perusahaan Air Minum (PAM) sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
"Semua daerah punya PAM masing-masing karena air bersih adalah hak masyarakat. Di Jakarta kebetulan ada PAM JAYA. Dan di sini PAM JAYA memang sedang mengejar target tahun 2029 seluruh bagian Jakarta bisa memiliki jaringan perpipaan," terang Gamal.
Peran Anak Muda
Sementara itu, Edufluencer Aland Pradana mengakui masyarakat Jakarta, khususnya anak muda, harus menjadi bagian dari gerakan peduli lingkungan. Salah satu kontribusi yang paling mudah adalah mengurangi konsumsi air dari AMDK dengan membawa tumbler saat bepergian.
"Kita memang bukan pemangku kebijakan publik. Di sini kita bisa berkontribusi, yang paling mudah adalah minum jangan dari AMDK. Dan kita juga mesti mencoba untuk sosialisasikan ke orang-orang sekitar kita untuk bisa menggunakan air perpipaan. Kasih tahu bahayanya air tanah sumur bor kepada teman-teman kita," jelas Aland.
Selain itu, Aland menegaskan, anak muda bisa menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi yang berguna, termasuk informasi penggunaan air tanah yang berbahaya bagi masa depan Jakarta.
"Medsos kita bisa gunakan untuk sebarkan informasi bahwa tenggelamnya Jakarta bukan karena AC (Air Conditioner), tetapi justru karena air tanah. Kita mesti bisa bawa narasi ini ke masyarakat," tegasnya.
Inisiatif dan Fasilitas
Di sisi lain, Inisiator Platform Melihat Kota Rizzah Aulifia mengingatkan masyarakat bahwa konsumsi air tanah yang masih berlangsung berkontribusi terhadap kesulitan hidup masyarakat ke depannya. Apabila penggunaan AMDK juga masih berlanjut, hal ini bisa menjadi bentuk kontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
"Kita ke manapun mesti bawa tumbler sendiri. Di beberapa titik fasilitas publik seperti perpustakaan, taman, ataupun transportasi umum, PAM JAYA memiliki beberapa titik pengisian air," pungkasnya.
Dalam acara tersebut, diinformasikan bahwa PAM JAYA sudah memasang Water Hub di berbagai fasilitas publik Jakarta, seperti Perpustakaan Nasional RI, Taman dan Hutan Kota Tebet, Lapangan Banteng, dan titik-titik lainnya mulai dari pemberhentian transportasi umum, sekolah, universitas, taman, tempat olahraga, hingga rumah sakit.
Kegiatan ini turut menghadirkan dua juru bicara isyarat bagi komunitas difabel sebagai bentuk semangat inklusivitas menjaga Jakarta dari berbagai kelompok. Diskusi ditutup dengan acara bagi-bagi tumbler dan seruan pentingnya menjaga Jakarta dengan membawa tumbler dan beralih ke air perpipaan.



