Jakarta, Jumat malam di Blok M terasa ramai. Warga Jakarta memadati kawasan ini, ada yang bersama pasangan, ada pula yang masih membawa tas kerja. Blok M kini dikenal sebagai pusat skena Jakarta, tempat anak-anak kalcer berkumpul. Namun, bagi Sunardi, Blok M bukanlah sekadar tempat nongkrong, melainkan tempat penuh pengharapan untuk mencari nafkah.
Di antara keramaian, Sunardi duduk dengan sabar di depan dagangannya. Sebilah bambu diikat tali kuning menjadi pikulan sederhana. Kaleng bekas kerupuk berisi beberapa bungkus semprong dan kerupuk bawang tertumpuk di atasnya. Setiap hari, ia menempuh puluhan kilometer dari Cengkareng ke Blok M untuk menjajakan dagangan. Biasanya, ia tiba sekitar pukul 12 siang dan bertahan hingga malam. Sekitar pukul 9 malam, ia berjalan kaki menuju Terminal Blok M untuk naik bus pulang. Pendapatannya tak menentu. "Hari ini saja baru laku lima," katanya sambil tertawa kecil.
Harapan dari Balik Gerobak
Beberapa meter dari Sunardi, Yohana menaruh harapan dari gerobak minuman kemasan. Di perempatan dekat Blok M Square, ia menjajakan minuman botol dan kopi seduh sejak pandemi berakhir. Dengan sigap, ia melayani pesanan: menggunting bungkus kopi, menuangkannya ke gelas plastik, lalu menambahkan air panas. Selain minuman, Yohana juga menjual bunga di akhir pekan. Buket bunga dibungkus plastik dan koran, beberapa dihiasi tulisan Prancis "C'est la Vie" yang berarti "Begitulah hidup". Bunga-bunga itu muncul dari ember berisi air agar tetap segar. Harga satu buket Rp50 ribu, namun Yohana tak hanya mencari untung. Ia sering membuatkan buket dengan harga lebih murah untuk pelajar dari SMAN 6 dan SMAN 70 yang mencari bunga untuk wisuda atau hadiah. "Ada yang minta bikinin yang Rp25 ribu, Rp10 ribu, ibu bikinin," ucapnya.
Blok M Satu Dekade Silam
Raynata, lulusan SMAN 6 tahun 2017, mengingat Blok M 12 tahun lalu sangat berbeda. Saat itu, Blok M Square masih sepi, belum ada kafe kekinian atau makanan viral. Ia hanya ke Blok M Square jika ingin makan otentik Jepang. Blok M Hub yang kini penuh restoran, dulu murni jalan menuju terminal. "Dulu jarang banget ke sekitar Blok M Square karena itu terminal aja," katanya. Ia lebih sering ke Taman Langsat atau GOR Bulungan. Menurutnya, perkembangan Blok M tak lepas dari akses transportasi yang kian mudah. Dulu, MRT belum ada, jalan layang CSW belum dibangun, dan transportasi daring belum populer. "Kalau dulu susah, Busway adanya di Terminal Blok M. Jadi orang kalau mau ke Blok M harus diniatin," ujarnya.
Faza, yang bersekolah di SMAN 70 (2014-2017), juga jarang ke Blok M Square karena rawan copet. Tempat ikonik seperti M Bloc Space dan Taman Literasi Martha Tiahahu belum ada. "Dulu Blok M Square seram, banyak copet," katanya. Jika ke sana, ia hanya singgah di Blok M Plaza untuk nonton bioskop atau makan. Kini, Blok M telah berubah. Jalan menuju Terminal Blok M (Blok M Hub) dipenuhi restoran viral dengan antrean panjang. Terminal Blok M menjadi pemberhentian utama TransJakarta yang menghubungkan Jakarta dengan kota penyangga seperti Bekasi, Bogor, dan Alam Sutera.
Kenangan dan Makna Blok M
Era 1990-an, Blok M menjadi primadona muda-mudi. Yana, yang saat itu berusia 20 tahun, menjadikan Blok M sebagai destinasi favorit. Restoran American Hamburger (AH) di Melawai menjadi tempat janjian dan makan keluarga. Bagi Abay (29), Blok M memiliki makna khusus. Ia memilih Blok M sebagai lokasi foto prewedding karena suasananya yang hidup dan hangat. "Kita pengen foto prewedd yang terasa natural, menggambarkan perjalanan hubungan yang dijalani pelan-pelan: jalan bareng, ngobrol bareng, cari makan enak, dan menikmati hal-hal sederhana," ucapnya. Meski selama pacaran ia dan istrinya tak pernah ke Blok M, foto itu menjadi simbol awal perjalanan baru. Abay dan istri gemar berburu buku dan mainan jadul di Blok M. Jika lapar, mereka tinggal naik ke atas dan memilih tempat makan. "Jadi, kalau ditanya kenapa Blok M, karena seperti jadi miniatur anak muda tentunya," ujarnya.



