Aqua Laguna Karawang: Desa Cemarajaya yang Hilang Ditelan Abrasi
Aqua Laguna Karawang: Desa Cemarajaya Hilang Akibat Abrasi

Dalam serial manga Jepang One Piece, Aqua Laguna adalah badai dan pasang laut tahunan yang menenggelamkan kota terapung Water Seven. Namun, kurang dari 100 kilometer dari Jakarta, ada Aqua Laguna versi nyata yang telah melenyapkan ratusan rumah warga di Desa Cemarajaya, Kabupaten Karawang. Jauh dari keindahan Venesia, dusun di desa ini nyaris terisolasi karena akses kendaraan terputus.

Kondisi Geografis yang Memprihatinkan

Tarwi, seorang perempuan paruh baya, terus menerus terkekeh menceritakan kondisi rumahnya yang kini hanya digunakan untuk berjualan. Rumahnya di ujung Dusun Pisangan persis di bibir pantai, hanya dilindungi tanggul batu setinggi hampir setengah rumah. Saat laut pasang, tanggul tak mampu menahan ombak. Lima tahun lalu, rumahnya masih menghadap ke laut, tetapi abrasi membuat bangunan awal lenyap dan kini rumah berbalik membelakangi pantai. Rumah semi permanen itu tersusun dari sisa bangunan lama, dengan pelataran depan ditutup kayu dan terpal untuk melindungi dari ombak.

Tarwi bersama suami telah mendapat rumah baru dari program relokasi pemerintah Kabupaten Karawang di Dusun Sekong, sekitar 3 kilometer dari Dusun Pisangan. Namun, rumah itu jarang ditempati karena ia bergantung pada warung kecil untuk para pemancing. Ia hanya pindah saat laut pasang besar dan ombak mulai memasuki rumah.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Desa Cemarajaya adalah wilayah pesisir paling utara Karawang, berjarak 90 kilometer dari Jakarta dengan waktu tempuh 2,5 jam. Enam dusun di desa ini membentang di sepanjang 12 kilometer garis pantai. Dusun Mekarjaya dan Pisangan menjadi yang terparah terdampak abrasi dan kenaikan air laut.

Dusun Mekarjaya: Hampir Hilang

Di Mekarjaya, hampir semua penduduk telah direlokasi. Bangunan rumah, tempat ibadah, dan fasilitas pendidikan kini hampir tak tersisa. Akses kendaraan sepanjang lebih dari 1 kilometer telah terputus sejak setahun terakhir. Satu-satunya jalan adalah jalan tambak dari geotube yang hanya bisa dilewati saat air surut. Saat pasang, laut merendam semua jalan, rumah, tempat ibadah, sekolah, hingga pemakaman. Siswa dari Mekarjaya harus berjalan kaki pulang pergi melewati jalan tambak sepanjang 1 kilometer untuk mencapai sekolah di Dusun Pisangan.

Mayoritas warga membuka warung kecil untuk pemancing, menjadi karyawan tambak, atau nelayan. Warung-warung itu adalah sisa-sisa kejayaan saat pantai masih menjadi destinasi wisata. Tarwi, yang warungnya di ujung Pisangan berbatasan dengan akses ke Mekarjaya, kerap menjadi tempat singgah siswa untuk bersih-bersih. Namun, saat laut pasang, jalan tambak tak bisa dilalui dan siswa terpaksa libur.

Data Abrasi dan Upaya Penanganan

Dinas Lingkungan Hidup Karawang memperkirakan 1-2 meter bibir pantai di Desa Cemarajaya habis setiap tahun akibat abrasi dan subsidensi (penurunan muka tanah). Dalam 25 tahun terakhir, sekitar 85 hektare daratan telah lenyap. Kepala Seksi Pelayanan Kantor Desa Cemarajaya, Eli Gusman Damanik, mengatakan pemerintah hanya bisa membangun tanggul semi permanen dari tumpukan batu. Namun, tanggul yang dibuat 10 tahun lalu ikut ambles dan tak efektif. Penanaman bakau juga tak berdampak signifikan karena tanah berpasir, bukan lumpur.

Banjir rob datang dua kali setahun antara Mei dan Juli. Pada bulan-bulan itu, warga menyelamatkan perabotan dan barang elektronik. Desa Cemarajaya menjelma pemukiman di atas laut, diapit tambak di selatan dan Laut Jawa di utara.

Proses Relokasi

Mak Kaci, seorang nenek, baru menerima rumah relokasi di Perumahan Sekong pada 15 Mei lalu. Rumah itu diberikan langsung oleh Bupati Karawang Aep Syaepuloh. Namun, ia hanya menempati rumah itu pada siang hari karena token listriknya cepat habis. Malam hari, ia kembali ke rumahnya di Dusun Pisangan yang sudah tak layak huni: tanpa pintu, tembok keropos, plafon jebol, dan bekas banjir setinggi 50 sentimeter. Rumah itu kini hanya untuk berjualan siang hari.

Mak Kaci masuk gelombang ketiga penerima rumah relokasi bersama 22 rumah lainnya. Relokasi pertama dan kedua dilakukan pada 2018 dan 2022 dengan total 299 rumah. Hingga kini, 321 rumah telah diberikan kepada warga yang terancam abrasi, mayoritas dari Dusun Pisangan dan Mekarjaya. Rumah diberikan gratis tanpa syarat tukar guling, dan warga tetap bisa menempati rumah lama. Sertifikat hak milik baru diberikan setelah 20 tahun untuk mencegah penjualan.

Pemerintah Kabupaten Karawang menargetkan relokasi 51 rumah lagi hingga akhir 2026.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Warga Menolak Relokasi

Tidak semua warga bersedia pindah. Tarwi khawatir kehilangan mata pencaharian jika harus meninggalkan warungnya. Ia bahkan tak terlalu mencemaskan rumahnya yang hanya dilindungi tanggul batu. Rumsah (43) dari Dusun Pisangan mengaku sempat ditawari relokasi, tetapi hanya untuk satu rumah, sementara ia dan orang tuanya berbeda KK. Hingga gelombang ketiga, ia tak mendapat tawaran lagi. Warkim (49) menolak karena sempat mendengar informasi bahwa rumah lama harus diserahkan (tukar guling). Padahal, rumahnya baru saja diperbaiki. Kantor Desa membantah adanya syarat tukar guling dan menegaskan rumah relokasi diberikan gratis tanpa syarat. Sejak penolakan itu, Warkim tak pernah mendapat tawaran lagi.

Warga yang menolak relokasi tetap tinggal di bawah bayang-bayang abrasi. Masa depan rumah mereka di pesisir Karawang masih belum jelas.