Kisah Pilu Kolektor Malaysia yang Bangkrut Akibat FOMO
Hobi mengoleksi barang-barang unik dan langka seringkali dianggap sebagai bentuk ekspresi diri yang positif, bahkan oleh sebagian orang dipandang sebagai instrumen investasi yang menjanjikan. Namun, di balik tren yang tampak menarik ini, tersembunyi risiko finansial besar yang kerap kali luput dari perhatian para penggemar. Risiko tersebut semakin mengkhawatirkan ketika dorongan untuk membeli lebih banyak koleksi justru dipicu oleh rasa takut ketinggalan tren atau yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO).
Dari Kebanggaan Menjadi Kolektor Hingga Jeratan Utang
Kisah memilukan ini datang dari seorang pria asal Malaysia yang sebelumnya dengan bangga menyebut dirinya sebagai seorang kolektor barang-barang unik. Menurut laporan dari media World of Buzz pada Sabtu, 11 April 2026, pria tersebut awalnya diperkenalkan pada dunia figur koleksi seperti Bearbrick dan Labubu oleh seorang teman dekatnya. Bentuk figur-figur tersebut yang sangat unik dan memiliki nilai artistik tinggi langsung membuatnya terpesona dan tertarik untuk memulai koleksi.
Namun, ketertarikan awal yang seharusnya menjadi hobi yang menyenangkan justru berubah menjadi obsesi yang merugikan. Dorongan untuk terus membeli figur-figur baru, terutama edisi terbatas yang sering kali dijual dengan harga premium, semakin kuat karena pengaruh FOMO. Ia takut ketinggalan kesempatan untuk memiliki item-item langka yang dianggap akan meningkatkan nilai koleksinya di masa depan.
FOMO: Pemicu Utama Keputusan Finansial yang Ceroboh
Fenomena fear of missing out atau FOMO dalam dunia koleksi barang-barang unik seperti figur Bearbrick dan Labubu ternyata memiliki dampak yang sangat signifikan. Banyak kolektor, termasuk pria Malaysia dalam kisah ini, terjebak dalam siklus pembelian impulsif tanpa pertimbangan matang mengenai kemampuan finansial mereka. Mereka sering kali mengabaikan anggaran pribadi dan berutang hanya untuk memenuhi keinginan memiliki item-item yang dianggap trending.
Akibatnya, apa yang semula diharapkan sebagai investasi jangka panjang justru berbalik menjadi beban keuangan yang berat. Pria tersebut akhirnya mengalami kebangkrutan setelah utang-utangnya menumpuk dan nilai jual kembali dari koleksinya tidak sebanding dengan pengeluaran yang telah dikeluarkan. Kisah ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang terjun dalam dunia koleksi, terutama mereka yang mudah terpengaruh oleh tren dan tekanan sosial.
Belajar dari Pengalaman: Koleksi Sehat Tanpa Tekanan FOMO
Berdasarkan pengalaman pahit yang dialami oleh kolektor Malaysia ini, ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil untuk menghindari jebakan serupa:
- Buat Anggaran yang Jelas: Tentukan batas maksimal pengeluaran untuk hobi koleksi dan disiplin dalam menaatinya.
- Lakukan Riset Mendalam: Jangan hanya tergiur oleh tren, pelajari nilai intrinsik dan potensi investasi dari barang yang akan dibeli.
- Kendalikan Emosi: Hindari pembelian impulsif yang dipicu oleh FOMO atau tekanan dari lingkungan sosial.
- Prioritaskan Kebutuhan Finansial: Pastikan bahwa hobi koleksi tidak mengganggu kewajiban keuangan utama seperti tabungan, investasi, atau pembayaran utang.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, hobi mengoleksi barang unik seperti figur Bearbrick dan Labubu bisa tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat, tanpa harus berakhir dengan kebangkrutan atau masalah keuangan serius. Ingatlah bahwa koleksi seharusnya menjadi sumber kebahagiaan, bukan sumber stres dan kerugian finansial.



