Wamen LH Ajak Masyarakat Cegah Banjir Jabodetabek dengan Bantuan Pipa Biopori
Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (Wamen LH/Wakil Kepala BPLH) Diaz Hendropriyono secara resmi mengajak seluruh masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam upaya pencegahan banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Ajakan ini disampaikan dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang mengusung tema 'Water and Gender', yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Penyerahan Bantuan Unit Biopori untuk 10 Desa
Dalam acara tersebut, Wamen Diaz menyerahkan bantuan berupa unit biopori dan alat pembuat lubang biopori kepada 10 desa di Kecamatan Cisarua. Setiap desa menerima 50 unit biopori, yang bertujuan untuk meningkatkan resapan air tanah dan mengurangi risiko banjir. "Hari ini kami serahkan bantuan unit biopori dan alat lubang biopori untuk 10 desa, masing-masing 50 unit biopori, untuk mencegah banjir," ujar Diaz, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian LH.
Dia menekankan bahwa pemasangan biopori di Kecamatan Cisarua sangat krusial, mengingat wilayah ini merupakan bagian dari kawasan hulu Daerah Aliran Sungai Ciliwung yang perlu dijaga keseimbangan airnya. Wamen LH juga mendorong setiap rumah tangga untuk menanam pipa biopori di pekarangan mereka, disertai dengan penanaman pohon. "Idealnya, setiap rumah harus punya unit biopori, supaya tidak ada genangan, dan air bisa langsung turun ke tanah, jadi ada keseimbangan air, dan mengurangi risiko banjir. Jadi sebaiknya setiap rumah tanam satu pohon dan lubang biopori," jelasnya.
Pentingnya Menjaga Keseimbangan Air
Diaz lebih lanjut mengingatkan bahwa menjaga keseimbangan air adalah hal yang vital, mengingat ketersediaan air bersih di dunia sangat terbatas. "Bumi itu 71% air, tapi dari 71% itu tidak semua bisa dipakai, yang bisa dipakai hanya 2%, dan 2% tersebut, mayoritas berada di Kutub Utara dan Kutub Selatan," ucapnya. Dia mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di sumber air seperti sungai dan danau, yang jumlahnya semakin berkurang akibat pencemaran.
Selain itu, dia menjelaskan bahwa kelebihan air juga dapat menimbulkan dampak negatif, seperti banjir, sehingga penanaman lubang biopori menjadi solusi penting. "Jangan sampai kekurangan air dan juga kelebihan air, kalau kelebihan akan jadi banjir, maka kita harus menjaga keseimbangan air masuk dan air keluar," terang Diaz.
Kegiatan Lanjutan dan Kehadiran Pejabat
Acara peringatan Hari Air Sedunia ini tidak hanya berhenti pada penyerahan bantuan biopori. Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan simbolis bibit pohon, tiga unit perahu karet, serta unit pipa biopori dan alat pembuat lubang biopori. Selanjutnya, dilakukan penanaman 1.500 pohon dan pembuatan sumur resapan di Agrowisata Gunung Mas.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Deputi Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH Rizal Irawan, Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH Rasio Ridho Sani, serta Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH Ary Sudijanto. Turut hadir pula Dandim 0621/Kabupaten Bogor Letkol Infanteri Rizal Dwijayanto, Camat Cisarua Heri Risnandar, perwakilan dari PTPN I Regional 2, serta komunitas sungai dan Saka Kalpataru.
Dengan inisiatif ini, Wamen LH berharap partisipasi aktif masyarakat dapat berkontribusi signifikan dalam mitigasi banjir di Jabodetabek, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan ketersediaan air bersih untuk generasi mendatang.



