Wakil Ketua MPR Serukan Komitmen Bersama Wujudkan Nilai Perjuangan Kartini di Era Modern
Wakil Ketua MPR Ajak Wujudkan Nilai Perjuangan Kartini Kini

Wakil Ketua MPR Serukan Komitmen Bersama Wujudkan Nilai Perjuangan Kartini di Era Modern

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menyatakan bahwa kebebasan berpikir bagi perempuan masih jauh dari kenyataan. Ia menegaskan bahwa upaya mewujudkan nilai-nilai perjuangan RA Kartini di masa kini memerlukan dukungan dan komitmen bersama sebagai penentu arah perjalanan bangsa.

Diskusi Daring Soroti Tantangan Emansipasi

Hal ini disampaikan Rerie saat membuka diskusi daring bertema 'Hari Kartini: Antara Perayaan Simbolik dan Keberlanjutan Gagasan Emansipasi' yang diselenggarakan Forum Diskusi Denpasar 12 pada Rabu (22/4/2026). Menurutnya, diperlukan komitmen bersama yang kuat untuk mampu mewujudkan emansipasi perempuan di era kontemporer.

"Emansipasi itu bukan semata boleh belajar, tetapi juga harus mampu mengantarkan perempuan untuk mewujudkan cita-citanya," ujar Rerie dalam keterangannya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR RI, berpendapat bahwa pekerjaan rumah untuk mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini masih sangat banyak. Ia menegaskan setiap momentum Hari Kartini harus menjadi pengingat bagi masyarakat tentang apa saja yang sudah dilakukan untuk menghidupkan dan mewujudkan gagasan RA Kartini saat ini.

Sejarah dan Perkembangan Gagasan Kartini

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Periode 1993-1998 sekaligus Penyusun dan Penulis buku Trilogi Kartini, Wardiman Djojonegoro, mengungkapkan bahwa peringatan Hari Kartini sejatinya sudah sejak 1915. Ia menjelaskan bahwa setelah RA Kartini meninggal pada usia 25 tahun, sahabatnya, Abendanon, mengumpulkan surat-suratnya untuk ditulis menjadi buku. Hasil penjualan buku itu digunakan untuk membangun sekolah perempuan agar mandiri, yang akhirnya berhasil didirikan di Semarang, Bogor, dan Yogyakarta.

"Emansipasi di masa itu diperjuangkan dengan meningkatkan harkat perempuan Indonesia melalui mendirikan sekolah," kata Wardiman.

Sekarang, upaya peningkatan harkat perempuan ditentukan antara lain dengan partisipasi perempuan di sektor ekonomi, politik, pengembangan sumber daya manusia, dan sektor di luar pendidikan. Wardiman menambahkan bahwa faktor-faktor yang harus dipenuhi untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan semakin kompleks.

Pandangan dari Berbagai Pihak

Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, berpendapat bahwa Indonesia mengalami lompatan luar biasa dalam pemberdayaan perempuan melalui afirmasi kebijakan. Di organisasi PGRI, tidak ada diskriminasi dalam memilih ketua, dan dalam 20 tahun terakhir, 30% dari 22 provinsi dipimpin oleh perempuan, dengan mayoritas ketua di tingkat kabupaten/kota adalah perempuan.

"Perempuan itu bisa menjadi pemimpin untuk mewujudkan tujuan yang telah disepakati bersama," ujar Unifah.

Ketua Umum Badan Pusat Wanita Tamansiswa, Nyi Tri Yuliyanti Setyasari, mengungkapkan bahwa emansipasi yang digagas RA Kartini dilanjutkan oleh Nyi Hadjar Dewantara, istri pendiri Taman Siswa. Organisasi Wanita Taman Siswa didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta, dan Nyi Hadjar berjuang di sektor pendidikan dengan menghadapi ancaman penjajah Belanda.

"Nyi Hadjar Dewantara melawan penjajah Belanda melalui jalan pendidikan dan merupakan salah satu inisiator Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta," ungkap Nyi Tri Yuliyanti.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Ketua Dewan Pengurus Forum Pemimpin Redaksi, Retno Pinasti, mengira representasi perempuan di lingkungan kerjanya baik, tetapi setelah menjadi pemimpin, ia menyadari mayoritas koleganya adalah laki-laki. Ia berpendapat kondisi ini dipicu oleh pola pikir perempuan itu sendiri.

"Dengan bekal pendidikan yang memadai, pola pikir yang menghalangi perempuan menjadi pemimpin akan bisa diatasi," ujar Retno.

Wartawan senior, Usman Kansong, berpendapat bahwa perjuangan emansipasi dan kesetaraan mestinya dipelopori oleh perempuan sendiri, dimulai dengan membiasakan menyebut perempuan ketimbang wanita, karena kata perempuan lebih egaliter.

"Karena dari kata-kata yang egaliter itulah awal mula perjuangan mencapai kesetaraan," tutup Usman.

Diskusi yang dimoderatori Nur Amalia ini menghadirkan berbagai narasumber dan penanggap, menekankan pentingnya kolaborasi untuk mewujudkan nilai-nilai perjuangan RA Kartini di era modern.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga