Right Justice Action Peringati Hari Perempuan Internasional 2026, Soroti Isu Gender dan Kesehatan Perempuan
Liputan6.com, Jakarta - Forum Right Justice Action, yang terdiri dari berbagai instansi seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kesehatan, Farid Nila Moeloek Society, Takeda, Paragon Corp, dan Watsons, memperingati Hari Perempuan Internasional 2026 dengan fokus pada isu kesetaraan gender dan kesehatan perempuan. Acara ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali peduli terhadap masalah-masalah yang masih dihadapi perempuan di Indonesia.
Pentingnya Kesetaraan Gender untuk Pembangunan
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, Arifatul Choiri Fauzi, menyampaikan bahwa berbagai studi menunjukkan pemberdayaan dan kontribusi perempuan terhadap peningkatan kesehatan ibu dan anak memiliki pengaruh besar dalam berbagai sektor. Hal ini termasuk menguatnya pemahaman keluarga hingga peningkatan produktivitas ekonomi masyarakat.
Arifatul menekankan bahwa isu kesetaraan gender dan kesehatan perempuan merupakan permasalahan yang sangat penting untuk terus dibahas, karena dapat menjadi strategi pembangunan yang efektif. Ia menjelaskan, "Pesteraan gender berarti bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak, kesempatan, akses, partisipasi, serta kontrol yang setara terhadap sumber daya dan manfaat pembangunan."
Untuk mendukung hal ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah melakukan pelatihan dengan perwakilan dari lima desa, yang diikuti oleh para perempuan. Tujuannya adalah untuk menyadarkan mereka bahwa mereka memiliki kesempatan luar biasa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di tingkat desa.
Kondisi Kesehatan Ibu dan Bayi di Indonesia
Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Lovely Daisy, mengungkapkan data yang memprihatinkan terkait kesehatan ibu dan bayi di Indonesia. Pada tahun 2020, diperkirakan terdapat 140 kasus kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup, dengan kondisi seperti hamil, bersalin, nifas, atau penyakit yang diderita ibu.
Lovely Daisy menambahkan, "Selain itu, 17 dari 1000 bayi yang dilahirkan tidak mencapai usia satu tahun, yang merupakan pengaruh dari kesehatan sang ibu. Angka ini termasuk besar pada saat itu dan menempati peringkat ketiga tertinggi untuk kasus kematian bayi."
Permasalahan kesehatan ibu lainnya yang dihadapi Indonesia meliputi stunting, kekurangan gizi, dan gizi buruk. Meskipun angka stunting konsisten turun dari 30 pada tahun 2013 menjadi 19,8 pada tahun 2024, hal ini masih mendekati batas tertinggi kategori sedang.
Pandangan Ahli Kesehatan Masyarakat
Profesor Kesehatan Masyarakat dari Departemen Manajemen Kebijakan Kesehatan Universitas Gadjah Mada, Adi Utarini, turut memberikan pendapatnya. Ia menyatakan bahwa kesehatan perempuan tidak hanya terbatas pada kesehatan reproduksi. Angka kematian perempuan lebih tinggi daripada laki-laki, dengan banyak kemungkinan penyakit seperti stroke, penyakit jantung, sirosis hati, diabetes, hipertensi, dan kanker payudara.
Adi Utarini menjelaskan, "Seluruh penyakit ini juga turut menyumbang angka dan menjadi penyebab kematian ibu, menunjukkan bahwa pendekatan kesehatan perempuan perlu lebih komprehensif."
Upaya Pencegahan dan Solusi
Lovely Daisy menyoroti perlunya pemantauan yang lebih intensif di puskesmas dan wilayah setempat, serta layanan yang harus menjangkau hingga desa-desa. Upaya yang telah dilakukan Kementerian Kesehatan termasuk Integrasi Layanan Primban di Puskesmas, yang didasarkan pada kluster siklus kehidupan.
Di sisi lain, Presiden Direktur Watson Indonesia, Lilis Mulyawati, menyampaikan bahwa Watson telah berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi ibu dan perempuan melalui edukasi di bidang kesehatan dan kecantikan. Edukasi ini melibatkan supplier dan dokter, serta telah dilakukan dalam berbagai konteks, seperti selama pandemi COVID-19 dengan kampanye penggunaan masker dan konsumsi vitamin.
Lilis menegaskan, "Perjuangan Watson untuk meningkatkan kesadaran dan kesehatan wanita terus berlanjut hingga saat ini, dengan edukasi di lingkungan kerja dan kampus."
Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 oleh Right Justice Action ini diharapkan dapat mendorong aksi nyata dalam mengatasi isu kesetaraan gender dan kesehatan perempuan, menuju Indonesia yang lebih inklusif dan sehat.
